Senin, 26 Agustus 2013

Sang Pencerah dari Tirtayasa

Ist.
Beritabatavia.com - Nyaris tanpa batas ! Tipikal seperti itulah yang pas untuk menggambarkan sosok Perwira Tinggi (Pati) Polisi ini. Cerdas dan memiliki wawasan luas namun juga humble (rendah hati) dan bersikap wellcome terhadap siapapun terutama bagi para kuli disket (wartawan, red) sehingga menimbulkan kesan tiada batas. Tetapi kebersahajaan itu tidak bisa mengurangi bobot pikiran-pikirannya yang bernas.

Pembawaan Perwira Tinggi Polisi lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) atau Adhymakayasa tahun 1980 ini sangat santai dan bersahaja. Meski rekam jejak (track reccord) mantan Kapolres Jakarta Timur ini terbilang cukup gemilang dan nyaris tiada tanding. Maklum bekas Kapolwil Bogor ini selalu menyandang yang terbaik dalam setiap jenjang pendidikan di Kepolisian. Mulai dari Akademi Kepolisian, PTIK, Sespim, Sespati semua diraihnya  dengan gelar lulusan terbaik. Tidaklah berlebihan bila Brigadir Jenderal Polisi Drs Tjiptono  MM disebut sebagai figur langka yang dimiliki keluarga Tri Brata.

Selain penguasaan materi teori yang mumpuni, Direktur Program Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini juga memiliki jam terbang yang cukup panjang. Berdasarkan  pengalaman penugasan yang beragam dari Sabang hingga Merauke. Maka  lelaki Jawa yang besar di Bukit Tinggi, Sumatera Barat ini bisa dijadikan sebagai referensi bagi para aparat Kepolisian untuk mengurai persoalan dalam membongkar aksi kejahatan. Terapi yang diberikan oleh mantan Dirlantas Polda Nangroe Aceh Darusalam (NAD), tidak melulu berdasarkan teori tetapi juga konklusi dari aksi nyata dilapangan.
  
Ada beberapa contoh kasus yang menarik yang bisa dijadikan acuan dan pencerahan dalam membangun hubungan antara Polisi dan masyarakat. Kala menjabat sebagai Dirlantas Polda NAD, Tjiptono sempat melakukan aksi yang terbilang nekat. Kala itu suasana begitu mencekam maklum saat itu Aceh masih dalam situasi Daerah Operasi Militer (DOM). Tetapi Tjiptono dengan nekat mengintrusikan jajarannya untuk menjalankan tugas seperti biasa termasuk melakukan razia terhadap para pengendara kendaraan umum. Cerdiknya, sebelum  menjalankan tugasnya Tjiptono menggelar pertemuan dengan berbagai tokoh masyarakat setempat. Dalam kesempatan itu dia memaklumatkan bahwa aparatnya tidak membidik GAM tetapi hanya akan menindak para pelanggar lalu-lintas semata. Hasilnya, sangat ajaib selama menjabat sebagai Dirlantas Polda Aceh tidak satupun anak buahnya yang ‘dicolek’ oleh GAM meski saat itu para kombatan itu terkenal sangat ganas.

Begitu juga halnya ketika mantan Wakapolda Daerah Istimewa Yogyakarta masih menjalankan tugas ke Papua. Saat itu Tjiptono ini dengan berani, memimpin anak buahnya menghadapi serangan dari gerombolan pengacau keamanan. Meski dirinya harus menghadapi sorotan luas dari masyarakat. Tetapi setidaknya dengan aksinya itu moral anak buahnya untuk menjalan tugasnya tetap terjaga. Selain berani mengambil sikap sekaligus resiko dalam menjalankan tugasnya untuk menjaga masyarakat  dari potensi gangguan Keamanan dan Ketertiban (Kamtibmas). Tjiptono juga  selalu menekankan kepada anak buahnya untuk berani dalam melakukan aksi sosial, kala menjabat sebagai Wakapolda DIY, Tjiptono sempat memimpin evakuasi masyarakat korban letusan Gunung Merapi. Bahkan  Tjiptono berada dalam posisi paling dekat dengan puncak Merapi, kala itu dirinya sempat ‘mengancam’ anak buahnya apabila ada yang berani meninggalkan lokasi evakuasi dia ancam akan dia tembak. Bersyukur dia dan seluruh anak buahnya dalam kondisi selamat.

Kadar kepemimpinan Tjiptono memang terbilang cukup tinggi. Kala masih menjabat sebagai Kapolres Jakarta Timur, Tjiptono sempat menyelesaikan konflik masyarakat Berlan dengan  Matraman yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Dengan kepala yang berdarah-darah, konflik itu akhirnya bisa diselesaikan dengan damai. Bahkan perdamaian langgeng hingga saat ini. Tidaklah berlebihan jika dikalangan Perwira Tinggi Polisi, Tjiptono dikenal sebagai ‘sang pencerah’ yang memiliki spesialisasi mengurai kebuntuan dalam menangani konflik. Intuisinya sangat tajam dalam mengurai persoalan meski terkadang keluar dari pakem ilmu kepolisian. Namun  Pati ini selalu punya cara untuk cari jalan keluar.

Maka Perwira Tinggi yang memanggul Bintang satu ini mengaku prihatin jika saat ini Polisi justru cenderung menjadi sasaran kejahatan bahkan hingga pembunuhan dan penembakan. Selain ada perubahan paradigma dalam membangun pola relasi antara polisi dengan masyarakat, polisi juga harus secara profesional dan serius dalam mengungkap kasus sejumlah aksi penembakkan dan pembunuhan terhadap anggota polisi itu. Dan dia yakin dengan kecanggihan teknologi serta keprofesionalan aparat, kasus itu akan terungkap.

Dengan terungkapnya sejumlah kasus itu niscaya masyarakat akan kembali tenang. Sekaligus terungkapnya kemungkinan adanya skenario-skenario lain dibalik aksi penembakkan itu. Sehingga tidak diperlukan lagi himbauan agar polisi lepas seragam seusai piket. Dengan himbauan itu niscaya kewibawaan aparat kepolisian akan jatuh sekaligus menjadikan moral aparat menjadi ambruk. Hilangnya rasa aman serta ambruknya moral aparat keamanan itulah yang sesungguhnya menjadi tujuan dari para pelaku teror. Jadi satu-satunya cara untuk mengembalikan rasa aman adalah mengungkap kasus itu secepatnya.O tim                                    

Berita Terpopuler