Minggu, 11 April 2010

Pemkot Jakarta Utara Tak Peduli, Kehidupan Ratusan Nelayan Marunda Memprihatinkan

Ist.
Beritabatavia.com - JAKARTA. Kehidupan ratusan nelayan di kampung Marunda, Cilincing, Jakarta Utara semakin memprihatinkan. Bahkan Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para nelayan Kampung Marunda, Cilincing, Jakarta Utara menjadi pengumpul barang bekas sisa sampah laut atau biasa disebut 'Cilong'. Alih profesi sebagai Cilong itu sudah berlangsung lama, apalagi sejak bulan Februari 2010 lalu para nelayan sudah menganggur, karena lahan mereka mencari nafkah digusur.
Sebelum di gusur, para nelayan itu sebelumnya membuka tambak sero, tambak kerang hijau. Namun, secara perlahan-lahan tambak seperti  itu tidak diperbolehkan lagi didirikan di pesisir laut. Selain itu aliran air yang mengalir dari muara KBT Marunda sudah tercampur limbah dan mencemari pesisir pantai Marunda. Sejauh ini belum ada perhatian pemerintah Jakarta utara, apalagi memberikan solusi bagi para nelayan di Kampung Marunda , Cilincing.
Hal ini disampaikan oleh Asliyk, Ketua Nelayan Tradisional Marunda, menurutnya ratusan nelayan di Marunda sudah menganggur lantaran lahan mereka dipesisir pantai sudah digusur. Dia sangat berharap kepada Pemko Jakarta Utara mencarikan solusinya supaya nelayan-nelayan ini bisa mencari kerja alternative lain. “Nelayan di Marunda ini ada sekitar 170 orang, terdiri dari nelayan ternak, sero dan bagan, lahan usaha mereka saat ini sudah tidak  ada lagi. Untuk itu kami berharap pemerintah mencarikan solusi yang terbaik bagi kami,“ tutur Asliyk.
Sedangkan menurut nelayan, Sobirin, Hasdi  dan Darsono, nelayan yang menganggur itu sampai saat ini belum ada pekerjaan alternatifnya. Karena tuntutan hidup akhirnya dirinya bersama kawan-kawan terpaksa menjadi pengumpul barang-barang bekas sisa sampah laut.
Ini dilakukan agar bisa mendapatkan penghasilan dan untuk makan sehari-hari. "Kami terkadang menjadi nelayan pancing namun tak sesuai dengan modal dan pendapatan yang di raihnya. Kalau jadi nelayan pancing modalnya sekitar Rp 30 ribu, namun hasilnya yang didapat hanya Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu, tak ada Untung “ ujar Sobirin.
Dengan mengumpulkan barang bekas dari laut seperti gelas plastik air mineral para nelayan itu kemudian dijual. Penghasilan para nelayan itu juga bisa ditutupi, disaat hari libur seperti hari sabtu dan minggu karena banyak masyarakat yang datang dan berkunjung ke pantai publik Marunda. “Kalau hari libur istri-istri kami berdagang makanan dan minuman. Tapi jika hari biasa kembali menjadi pemulung lagi “ kata Darsono seraya berharap Pemkot Jakarta Utara mencarikan solusinya. Supaya aktivitas dan profesi mereka sebagai nelayan bisa kembali normal dan tidak lagi menjadi pemulung. O wdi