Rabu, 24 Agustus 2016

Kami Merubah Kami Dipindah

Ist.
Beritabatavia.com - Menghalalkan segala cara demi jabatan dan kekuasaan serta kekayaan menjadi perilaku kaum sengkuni di birokrasi.Menghambat bahkan mematikan hidup dan kehidupan untuk  mempertahankan birokrasi patrimonial. 

Ada sesuatu yang menggelitik buat kita renungkan di antara gembar gembor teriakan reformasi birokrasi, mari berubah, perubahan mind set, yaitu ungkapan  “ kami merubah kami dipindah “. Apakah ini suatu ketakutan, kepura-puraan atau kejujuran?

Ini suara hati yang jujur yang merefleksikan betapa kekuatan, kekuasaan bisa mematikan hidup dan kehidupan di dalam birokrasi. Nilai-nilai yang dianut masih pada jabatan basah atau kering,kekuasaan, previlage dan banyak hal yang jauh dari pelayanan kepada publik dalam mewujudkan keadilan sosial.

Ketakutan dan kecintaan pada jabatan menjadi sesuatu yang membuat tidak lagi mengutamakan profesionalisme. Menyenangkan pimpinan dengan berbagai pendekatan personal,bahkan illegal pun rela dilakukan.

Birokrasi patrimonial mengagungkan kekuasaan tak jarang membuat ketakutan bahkan terbelenggunya pikiran-pikiran kaum bawahan. Siapa berani langsung dieksekusi, dijudge tidak loyal, membangkang, tidak bisa diatur, kaku, ekstrim dan banyak tudingan lainya.

Tak jarang primordialpun digunakan untuk menjatuhkan. Legitimasi dalam membunuh karakter yang mudah dan biaya murah adalah dengan hal-hal yang berbau sara. Issu-issu  kebencian ditabur memprovokasi untuk membakar rasionalitas banyak orang. Cara pandang sempit,diskriminatif menjadi sesuatu yang lumrah dan menjadi core dari premanisme.

Reformsi setengah hati menjadikan birokrasi mau mati. Kepura-puraan yang terus ditumbuh kembangkan tanpa ragu, tanpa malu  rakyat yang sudah sekarat dijadikan obyek sasaranya.Apa yang  dikatakan dalam pelayanan publik berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang menjadi kenyataan.

Bagi orang-orang bawahan, kaum marginal tak bisa berbuat banyak selain pasrah dan mengumpat di belakang. Perubahan bukan tugas dan kewajiban rakyat bawahan, melainkan tugas dan kewajiban serta tanggung jawab sang pemimpin di semua lini.

Sengkuni Gergaji Birokrasi

Tokoh sengkuni dalam pewayangan sebagai simbol sifat licik, hobby membuat gaduh, senang menipu, berbuat curang, pengecut, munafik dan banyak hal buruk yang menjadi tabiatnya.

Sengkuni dalam era modern ini akan selalu menggergaji birokrasi demi kekuasaan, kekayaan, tega menjadi penjilat, berkhianat, menjadi pecundang, memutar balik fakta, membuli bahkan menjatuhkan harkat dan martabat manusia juga dirinya.

Orang-orang berwatak sengkuni selalu saja akan menjadi benalu menggergaji dari dalam dan terus saja menabur kebencian, fitnah dan kegaduhan. Sengkuni sangat lihai bersilat lidah, bermain watak dan jelas-jelas memanfaatkan situasi demi keuntungan dan kesenangan pribadi serta kroninya.

Kaum-kaum sengkuni akan selalu berusaha dekat dengan kekuasaan untuk bisa menghasut para pemegang kekuasaan untuk ikut menguasai sumber-sumber daya dan mengangkanginya. Sengkuni akan terus menabur kebencian kesana kemari bagi siapa saja yang dianggap musuhnya atau  menghalangi maupun merugikan kepentingan-kepentingannya.

Sengkuni akan tega menikam dari belakang, memotong dalam lipatan, membunuh karakter. Sengkunipun mewakili keberadaan mafia-mafia birokrasi. Mempolitisir, mendiskriminasi, memonopoli, akan menjadi unggulannya.

Gergajian sengkuni antara lain : 1. Mempertahankan status quo, 2. Mark up anggaran,3.memanipulasi, 4. Memonopoli, 5. Membuli dengan berbagai fitnahan, 6.Menipu dan menggelapkan, mencuri, 7. Membunuh karakter, 8. Menjilat dengan menabur
kebencian, 9. Menjual aset birokrasi kepihak luar, 10. Menyalahgunakan wewenang, dan banyak lagi tabiat-tabiat kontraproduktif yang terus ditumbuh kembangkan. O Kombes DR Chrysnanda DL

Berita Terpopuler