Minggu, 28 Agustus 2016

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Ist.
Beritabatavia.com - Salah satu amanat UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dapat dipahami bahwa para bapak bangsa menginginkan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang cerdas tidak mudah dibodoh-bodohi, tidak gampang diprovokasi, tidak mudah dicuci otaknya, tidak mudah diadu domba dan tidak menjadi bangsa anarkis atau perusak bangsa sendiri.

Tingkat kecerdasan masyarakat menjadi salah satu tolak ukurnya. Pada masyarakat yang tertinggal, terbelakang, kurang wawasan. Mereka akan lebih mudah dicuci otaknya dan dijadikan alat untuk merusak bangsanya sendiri. Dengan pemahaman dan penanaman berbagai keanehan yang sarat dengan nuansa tidak logis, dan cenderung pada mistis maupun emosi-emosi anarkisme.

Bangsa yang cerdas dapat dipahami sebagai bangsa yang berkarakter dan mampu menunjukan jatidiri bangsanya serta menerima perubahan dengan ciri-ciri antara lain :

1.Berpikir secara rasional dan mengedepankan logika menjadi habitus.
2.Tingkat pengendalian emosi yang tinggi mampu mencegah anarkisme.
3.Tidak mudah dihasut dalam berbagai janji-janji mistis yang jauh dari nalar sehat.
4.Mampu menunjukan kebudayaan bangsanya sebagai kebanggaan dan nilai-nilai luhur.
5.Peka peduli terhadap sesama manusia, linkungan hidup, alam semesta dan  habitatnya.
6.Mampu menata keseimbangan hidup dan kehidupanya dalam harmoni keteraturan sosial dalam konteks logika, estetika maupun logika.
7.Memberikan apresiasi atas kebaikan dan kebenaran yang diberikan secara terbuka baik kepada kelompok maupun perorangan.
8.Kesadaran akan kepatuhan hukum yang tinggi
9.Tingkat akuntabilitas publik secara administrasi, hokum dan moral yang tinggi.
10.Kualitas pelayanan publik yang prima.
11. Tingkat kriminalitas yang rendah
12.Aparaturnya bekerja secara profesional, cerdas, bermoral dan modern.

Ke 12 point tersebut ditunjukan dalam sistem manajemen yang unggul dengan memanfaatkan teknologi yang canggih.

Perubahan Bukan Ngimpi

Sebuah iklan yang menunjukan adanya jin dalam lampu wasiat, tatkala dimintai perubahan wajah menjadi ganteng, dia tertawa sambil ngeloyor dan meneriakan “ngimpi”.

Niat untuk berubah yang begitu besarpun akan bagai mimpi di siang bolong. Hampir-hampir tidak mungkin, karena sang mbahurekso (penjanga) naga mafia birokrasi begitu kuat agar status quo dan kenyamananan yang mereka nikmati terus dipertahankan kalau bisa ditingkatkan.

Siapa saja yang anti status quo atau ingin perubahan akan dimatikan bahkan tidak lagi mempedulikan orang ini baik atau  benar. Pokoknya siapa saja yang menentang atau berseberangan dilibasnya.

Meskipun banyak ungkapan-ungkapan yang menunjukan protes dan kekecewaan. Tetapi, apa mau dikata karena yang berkuasa sedemikian kuatnya.

Diskriminasi akan terus merajai dan menghantui bagi siapa saja untuk patuh taat bahkan ketakutan dan menjadikannya kelompok-kelompok  berhutang budi.

Adakah harapan berubah ? Pasti ada. Merubah sesuatu diperlukan:

1.Ide sebagai soft power inspirasi pemikiran secara konseptual bahkan teoritikal.
2.Power, kekuatan baik kekuasaan, kewenangan, pangkat, jabatan dan sebagainya.
3.Massa, ada peer group, pengikut yang mempercayai dan mendukungnya.
4.Timing atau waktu yang tepat.

Empat point itulah pembangun mimpi untuk menuju dan melakukan perubahan. Bila tidak, maka perubahan tetap saja hanya angan-angan dan mimpi selamanya.O Kombes DR Chrysnanda DL

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 17 September 2018
Sabtu, 25 Agustus 2018
Sabtu, 25 Agustus 2018
Senin, 06 Agustus 2018
Jumat, 27 Juli 2018
Rabu, 18 Juli 2018
Rabu, 11 Juli 2018
Jumat, 25 Mei 2018
Selasa, 22 Mei 2018
Senin, 21 Mei 2018
Sabtu, 14 April 2018
Sabtu, 10 Maret 2018