Jumat, 30 September 2016

Loyalitas Bebek di Tepi Sawah

Ist.
Beritabatavia.com - Sistem yang baik diawaki orang-orang yang keliru bisa berbahaya bahkan bisa disalahgunakan. Sistem tinggalah onggokan tatkala orangnya atau  manusianya tidak mau menggunakan. Tetapi tetap saja mengagungkan cara –cara konvensional, otoriter dan feodalisme, maka yang dihasilkan adalah orang yang hanya manut-manut, pembebek dan penjilat saja.

Pembinaan-pembinaan karier antrean panjang urut kacang tiada lagi kompetensi dan prestasi siapa tua majulah ia, karena menghormati antreanya. Siapa di atas semua pinisepuh yang telah jompo dan renta. Siapa mau menjadi fighter kalau sudah jompo?

Tentu setengah hati. Sejuta alasan untuk kemajuan dilontarkan dari yang sudah tidak bisa mikir sampai dengan yang sudah tidak mampu lagi menggerakkan kaki dan tanganya.

Alasan-alasan pembenar tadi sebenarnya karena ia sudah nyaman dan  aman di tempatnya. Ia hanya menunggu saat tiba harus berhenti atau dihentikan dengan paksa. Mental dan spirit lumayanlah, sepukul dua pukul toh ini akan jadi sangu pensiun.

Bisa dibayangkan betapa akan memundurkan dan meremukan sistem-sistem bagai mesin rongsokan yang nyampah. Membangkitkannya kembali tentu bisa 2/3 x lebih sulit karena sebagian besar saraf sudah kecanduan kenikmatan KKN.

Waras ? No way. Nalar akan ditukar sabda-sabda ndoro yang sudah tidak uptodate bahkan tidak lagi rasional.
Monggo pun raosaken !Kalaupun itu benar. Akahkah pasrah dan siap menjadi pembebek berikutnya?

Weekkkk weeekkk weeekkk.... Bunyi bebek memang satu suara mau e nya panjang atau k nya banyak nada suaranya tetap sama karena diawali dengan huruf w. Variasinya hanya di e dan k yang bukan kreatif tentunya.

Walau ada tekanan-tekanan. Semerdu merdunya suara bebek ya hanya week wek wekkkkkk. Di dalam birokrasi ala babek ini sepertinya di adopsi dan menjadi trend. Loyalitas dicokok hidungnya tanpa pikir panjang langsung saja teriak weeekkk week wekkkk sebagai tanda loyal, patuh dan taat , sendiko dawuh. Apa yang dilakukan dan dikatakan tidak beda dengan kata wek wek weeekk dan wekkkk.

Kreatifitas mewujudkan mimpi hampir-hampir sebatas week wek wekkkkkkk. Analoginya sebatas dalam omongan yang tiada pernah dilakukan. Mungkin ada yang marah atau tersinggung bila dikatakan demikian. Saya sudah bekerja sudah begini begitu, tapi apa yang dikerjakan kadang tidak sesuai dengan tugas pokoknya, karena pokoknya tugas. Bukan tugas-tugas penting melainkan yang penting tugas.

Seakan tiada target dan standar bahkan pencapaianyapun bukan atau belum menjadi tolok ukur keberhasilanya. Apa yang dibutuhkan, diharapkan dan diinginkan dari masyarakat terus saja semakin jauh gapnya antara harapan dengan kenyataan.

Kalaupun ada yang baik sangat tidak signifikan, bahkan ketika ada sesuatu yang baru sekalipun itu juga sebatas mengikuti perintah tanpa memahami makna apalgi manfaatnya.

Mengikuti arus memang nyaman, di sini senang di sana disayang semua menjadi teman dan kerabat karena kekenyangan, tiada lagi yang perlu diperjuangkan. Ngapain berjuang begini saja sudah kenyang. Apalagi semua kewenangan dan kekuasaan ada ditangan. Siapa berani pasti mati. Siapa manut akan selalu katut.

Situasi seperti itu akan berdampak para pekerja akan terus berupaya membuat senang ndoronya, siapapun itu. Bagi para ndoro narsis memang paling suka kalau dijilati dan semua pengikutnya nampak patuh dan rapi seperti bebek di tepi sawah, sambil menyanyikan lagu wajibnya weeek wek wekkkkk wekkkkkkkkkkkkkkkk.O Kombes DR Chrysnanda DL

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 17 September 2018
Sabtu, 25 Agustus 2018
Sabtu, 25 Agustus 2018
Senin, 06 Agustus 2018
Jumat, 27 Juli 2018
Rabu, 18 Juli 2018
Rabu, 11 Juli 2018
Jumat, 25 Mei 2018
Selasa, 22 Mei 2018
Senin, 21 Mei 2018
Sabtu, 14 April 2018
Sabtu, 10 Maret 2018