Jumat, 26 Mei 2017

Bom Bukan Balon

Ist.
Beritabatavia.com - Meskipun tidak menelan korban jiwa, anak-anak Indonesia sudah mengungkapkan kekacauan hatinya saat sebuah balon hijau miliknya meletus. Agar empat balon yang tinggal tidak pecah lagi, anak-anak berjanji akan memegang erat-erat.
 
Lagu anak-anak yang popular di era tahun 90 an itu merupakan pesan bahwa kita harus waspada dan berupaya serta bersikap tegas terhadap sesuatu yang potensi menimbulkan kekacauan. Kemudian konsisten menjaga sikap tegas itu, seperti anak-anak yang berjanji akan memegang erat-erat sehingga balonnya tidak pecah lagi.

Apabila hanya karena balon meletus hati anak-anak sudah kacau, tentu suasana hati bangsa Indonesia diselimuti rasa  kacau dan terancam,cemas, khawatir akibat peristiwa dua ledakan bom di Kampung Melayu Jakarta Timur pada Rabu (24/5/2017) malam . Apalagi peristiwa mengerikan itu menelan korban jiwa tiga anggota terbaik Polri.Sedangkan dua lainnya diidentifikasi sebagai pelaku bom bunuh diri itu.Sementara 11 korban lainnya menjalani perawatan di rumah sakit.

Pasca ledakan bom Kampung Melayu,Jakarta Timur, kita tidak cukup hanya menyampaikan reaksi spontan dengan kalimat-kalimat klasik  seperti “duka mendalam untuk para korban”  “ perihatin atas peristiwa tersebut ” dan berbagai ungkapan mellow lainnya. Sebab ungkapan itu bukan solusi efektif untuk menyelesaikan permasalahan atau mencegah agar peristiwa serupa tidak lagi terjadi.

Kita jangan lagi selalu memposisikan diri seperti sedang menikmati pemandangan yang indah. Atau ada setelah peristiwa dan pergi sesudah mengucapkan rasa simpati dan duka serta ungkapan kegeraman hingga kutukan terhadap peristiwa itu.

Disisi lain, kita menepuk dada,bangga,eforia, disusul pemberian penghargaan ketika berhasil mencegah terjadinya peledakan bom. Tetapi semua bungkam diam seribu bahasa saat terjadi peledakam bom seperti di Kampung Melayu. Bahkan berupaya untuk menghindar dari kewajiban dan tanggungjawab , dan menganggap peristiwa itu adalah merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia.

Pasca ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Presiden Jokowi mengakui ada kendala, karena kita belum memiliki dasar hukum yang kuat untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap para pelaku teroris. Sungguh diluar dugaan, saat peristiwa mengerikan menghantui  masyarakat, tokoh nomor satu negeri ini mengeluh belum adanya aturan atau undang-undang pencegahan teroris. Pengakuan orang nomor satu negeri ini membuat bulu kuduk merinding, sebab bumi Indonesia masih menjadi ladang subur bagi para pelaku aksi teror bom.
 
Lalu, bagaimana mungkin bisa melindungi segenap tanah air dan rakyatnya, jika kita belum memiliki dasar dan kemampuan untuk memberikan perlindungan ? Sementara ancaman bom sudah menakutkan dan menghantui fikiran sehingga membuat kita semua cemas. Ancaman bom bukan lagi sekadar membuat hati kacau seperti hati anak-anak dalam lirik lagu pada era 90 an. Kita harus segera melakukan terobosan dan upaya untuk mencegah aksi teror serta semua bentuk yang potensi menjadi ancaman bagi kehidupan rakyat dan kelangsungan negeri Indonesia tercinta. O Edison Siahaan   

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 16 Juli 2017
Jumat, 30 Juni 2017
Sabtu, 17 Juni 2017
Kamis, 08 Juni 2017
Jumat, 02 Juni 2017
Senin, 29 Mei 2017
Jumat, 26 Mei 2017