Selasa, 18 Juli 2017

Agar Polri Tidak Kehilangan Tongkat Lagi

Ist.
Beritabatavia.com - Wacana pembentukan Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor) Polri adalah sebuah momentum perubahan perilaku seperti peristiwa yang pernah terjadi pada awal abad pertama.

Bermula dari kisah  sosok seorang pria bernama Saulus dalam bahasa Ibrani disebut Syaul. Pria gagah perkasa itu menggunakan kekuatan dan keberanian yang dimilikinya untuk melakukan kekerasan bahkan pembunuhan pada orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Sehingga  sebagian besar masyarakat pada saat itu menjauhi dan menolak kehadiran sekaligus memberikan gelar kepadanya sebagai penjahat dan pembunuh.

Seiring dengan perjalanan waktu dan pengalaman hidupnya, Saulus berubah menjadi orang baik yang mencintai perdamaian dan selalu mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Perubahan perilaku Saulus yang kemudian dikenal sebagai Paulus diakui sebagai rasul oleh sebagian besar masyarakat.

Sejarah kehidupan Saulus yang berubah nama menjadi Paulus dan dikenal sebagai rasul, hanya bermula dari perubahan perilaku,bukan diawali dengan perubahan pisyik atau penampilan. Sehingga kisah Saulus menjadi Paulus adalah momentum perubahan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik.

Perilaku dengan sifat sombong, pendusta,penghianatan,curang dan berbagai perilaku buruk lainnya, akan menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila oknum dari penyelenggara Negara berperilaku tidak adil, semena-mena, menyelewengkan kekuasaan, tidak jujur,menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan dan berbagai perilaku buruk lainnya, akan menuai ketidak percayaan masyarakat. Kemudian atas perilaku buruk oknum-oknum masyarakat akan memberikan lebel buruk yang membuat lembaga tersebut tidak mendapat kepercayaan.

Begitu juga wacana pembentukan Densus Tipikor Polri, adalah momentum perubahan yang didasari niat dan keseriusan untuk memberantas kejahatan korupsi. Sekaligus bentuk pernyataan bahwa Polri akan berubah dan mampu melaksanakan penegakan hukum untuk memberantas kejahatan korupsi.

Pembentukan Densus Tipikor Mabes Polri momentum perubahan yang harus dapat dipertanggungjawabkan Polri.Sekaligus membayar kepercayaan masyarakat atas kewenangan yang berpindah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2002 silam. Sebab salah satu alasan dibentuknya lembaga adhoc KPK adalah karena lembaga penegak hukum  Polri dan Kejaksaan kurang efektif memberantas kejahatan korupsi.

Pembentukan Densus Tipikor Mabes Polri adalah pernyataan perubahan dari perilaku yang sebelumnya kurang mendapat kepercayaan menjadi dapat dipercaya. Serta sebuah janji akan melaksanakan penegakan hukum secara profesional sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sekaligus niat tulus untuk mengembalikan marwah lembaga penegak hukum yang dapat dipercaya.

Tentu perubahan perilaku menjadi lebih baik akan menjadi harapan bangsa Indonesia untuk  lebih maju. Keinginan dan niat  perubahan perilaku hendaknya mendapat kesempatan dan dukungan. Harapan agar Densus Tipikor efektif dan menghasilkan manfaat bisa terwujud, apabila proses pelaksanaannya juga mendapat ruang pengawasan dari masyarakat.

Pembentukan Densus Tipikor Polri bukan hanya sekadar mengembalikan kewenangan dari KPK. Tetapi sebuah lembaga yang dapat dipercaya untuk memberantas tindak pidana korupsi. Agar Polri tidak kehilangan tongkat kedua kalinya, maka  Polri harus memberikan garansi bahwa Densus Tipikor bukan alat politik yang dapat digunakan untuk kepentingan penguasa. O Edison Siahaan

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 16 Juli 2017
Jumat, 30 Juni 2017
Sabtu, 17 Juni 2017
Kamis, 08 Juni 2017
Jumat, 02 Juni 2017
Senin, 29 Mei 2017
Jumat, 26 Mei 2017