Minggu, 15 Oktober 2017

60 Terpidana Mati, 10 Orang Nunggu Eksekusi

Ist.
Beritabatavia.com - KEJAKSAAN Agung (Kejagung) mencatat ada 10 terpidana mati bandar narkoba yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkrach), tapi mereka belum dapat dieksekusi di depan regu tembak, karena masih mengajukan upaya hukum lain, peninjauan kembali (PK) dan upaya konstitusional berupa grasi.

“Inilah persoalan yang dihadapi tim jaksa eksekutor atau biasa disebut aspek yuridis. Kita dengar mereka ajukan PK dan Grasi sehingga aspek yuridisnya belum terpenuhi,” jelas Jakasa Agung M Praseryo.

Prasetyo menyampaikan selain aspek yuridis, masih ada aspek teknis untuk dapat dilakukan eksekusi terpidana mati, namun aspek teknis lebih mudah “Jika aspek yuridis terpenuhi, aspek teknisnya tinggal di-dor (ditembak regu tembak),” terangnya.

Jumlah terpidana mati yang sudah inkrach 10 orang lebih. Jumlah ini bagian dari 153 terpidana mati dari berbagai tindak pidana. Jumlah terpidana mati sekitar 60-an. Jumlah ini terus bertambah seiring bertambahnya vonis mati.

Prasetyo mengakui anggaran untuk pelaksanaan eksekusi mati sudah dianggarkan dalam anggaran Kejaksaan Agung, tapi soal berapa berapa besaramnya dirinya tidak mengetahui.”Silakan tanyakan ke Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum), ” sarannya.

Jampidum Noor Rachmad yang pernah ditemui, sebelum ini mengakui dalam anggaran Kejaksaan sudah disiapkan anggaran dengan rincian Rp 250 juta per-orang.

Prasetyo menerangkan biaya eksekusi itu digunakan untuk biaya pengamanan, pelatihan, biayamentiapkan pwti mati, termasul jas, daai dan sepatu buat terpiidana mati yang bukan muslim. “Semua ada rinciannya. ”

Dia menambahkan eksekusi mati masih dilakukan, karena masih menjadi hukum positif yang diatuir dalam KUHP. (Kitab Undang Undamg Hukum Pidana). “Kalau ada yang kontra dan sebagainya memang seperti itu lah dunia. Memang seperti itu ada yang pro dan kontra. itu yang jadi pertimbangan kita,” TTS ukasnya. o pko