Selasa, 24 Oktober 2017

Klarifikasi Jenderal Tito Karnavian Soal Perkosaan

Ist.
Beritabatavia.com - Berita berjudul, “ Tito Karnavian : Korban perkosaan bisa ditanya oleh penyidik, apakah nyaman,selama perkosaan ? “ yang ditayangkan BBC Indonesia pada Kamis 19 Oktober 2017 lalu, menuai reaksi para aktivis pemerhati isu perempuan dan gender. Mereka  meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan klarifikasi atas peryataan yang di lansir BBC Indonesia tersebut.

Tak ingin reaksi itu bergulir menjadi isu liar, Kapolri Jenderal Tito Karnavian langsung mengundang para aktivis pemerhati isu perempuan dan gender untuk memberikan klarifikasi serta penjelasan secara rinci.

Dalam pertemuan yang digelar di rumah dinas Kapolri kawasan Jakarta Selatan, pada Senin 23 Oktober 2017, sore, hadir 67 aktivis pemerhati isu perempuan dan gender diantaranya Ibu Pertiwi Rusmanhadi (DERAP WARAPSARI), Ibu Wulandari Danoekoesoemo (Lentera Sintas Indonesia), dan Ibu Netty Prasetyani Achmad Heryawan (istri Gubernur Jabar, anggota Maju Perempuan Indonesia / MPI), yang mewakili 18 organisasi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang didampingi Kabareskrim Polri, Kadiv Propam Polri, Karo Penmas Div HUmas Polri, Wakapolda Metro Jaya, penyidik tindak pidana terhadap Perempuan dan Anak di Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya, menyampaikan klarifikasinya, bahwa wawancara dengan BBC dilakukan dalam waktu hampir satu jam. Adapun topik bahasannya bukan topik mengenai masalah kekerasan atau pemerkosaan.

"Intinya masalah terorisme, spektrumnya luas ya, terorisme, masalah konflik di Marawi, deradikalisasi, kemudian beberapa kemajuan tentang kepolisian dan ada beberapa isu-isu lainnya," ungkap Jenderal Tito,  Senin (23/10).

Dalam wawancara tersebut, jurnalis asal Australia itu melontarkan pertanyaan terkait penyidikan kasus pemerkosaan yang bersifat pribadi. "Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan privasi itu, itu bisa saja ditanyakan sepanjang itu berhubungan dengan kasusnya untuk mengungkap motif, untuk memenuhi alat-alat bukti dan lain-lain," jelas mantan Kapolda Metro Jaya ini.

"Bagaimana kalau seandainya itu diluar konteks pemeriksaan, tapi lebih kepada melecehkan secara pribadi, saya jawab, saya belum bisa jawab, tapi saya akan turunkan tim untuk menanyakan kepada penyidik, termasuk orang yang melaporkan nantinya," ujarnya.
Kepada jurnalis itu, Tito menjelaskan, sejumlah pertanyaan yang diajukan penyidik mungkin sangat privat. Misalnya, mengenai masalah persetubuhan dan adanya terkait masalah paksaan.  Hal tersebut pun dibenarkan oleh Tito. Namun, penyidik juga akan mempertimbangkan faktor psikologis korban.

"Tidak mungkin setiap ada orang yang lagi luka ditemukan di tengah jalan diperkosa langsung dibawa ke rumah sakit atau dibawa ke kantor polisi sambil ditanya, heh kamu bagaimana suka nggak, oh jelas nggaklah, itu polisi memiliki trik-trik memahami psikologi," kata Kapolri.

Sehingga, pada polisi khusus untuk perempuan dan anak terdapat unit khusus, unit PPA pelayanan perempuan dan anak. Unit ini telah diterapkan di tingkat Mabes Polri, Polda, sampai ke Polres. "Bahkan tahun 2014 direkrut 7.000 Polwan hanya untuk mengisi unit PPA di polsek-polsek," jelas dia.

Tujuan pembentukan unit ini untuk menangani kasus-kasus perempuan dan anak. Sehingga, hal ini menurut Tito membuktikan bahwa Polri sangat konsentrasi masalah ini terhadap perlindungan perempuan dan anak.
"Nah kalau ada pertanyaan-pertanyaan bersifat privasi ini para polwan-polwan ini yang akan bertanya dan polwan-polwan ini tentunya sudah dilatih, kapan dia mengajukan pertanyaan itu, apakah dia perlu mengajukan pertanyaan itu,"

Pertanyaan yang diajukan pun menurut Tito, bisa merujuk pada hal yang sensitif. Namun memiliki kepentingan untuk mengungkap kasus dengan sejelas-jelasnya sehingga tuntutan pada pelaku dapat maksimal. Dan hal ini dilakukan dengan metode tertentu.
"Kalau kita lihat perempuannya korbannya sensitif orangnya, psikologinya sangat tidak stabil dan kita tunggu sampai stabil, setelah itu baru polwan yang menangani," jelas Tito.

Tito berharap, melalui klarifikasinya ini dapat menjadi penjelasan dia sebagai Kapolri, bukan tidak peduli kepada korban perkosaan apabila menanyakan hal sensitif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya PPA dan metode pendekatan psikologis yang tidak dijelaskan secara rinci dalam artikel BBC bertajuk “Kapolri Tito korban perkosaan dapat ditanyakan menikmati atau tidak” itu.
"Jangan salah, ibu saya adalah wanita, istri saya juga adalah wanita, anak saya pun adalah juga wanita. mana mungkin saya nggak peduli sama wanita," tutur Jenderal Tito Karnavian. O son