Sabtu, 11 November 2017

Dokter Beli Pistol Rp45 Juta Demi Habisi Nyawa Isteri

Ist.
Beritabatavia.com -
Penyidik Polda Metro Jaya menyebutkan Dokter Ryan Helmi membeli dua pucuk senjata api seharga Rp45 juta demi menghabisi nyawa istrinya dokter Letty Sultri, yang ditembal mati di dalam klinik Azzahra Medical Centre Jalan Dewo Sartika Jakarta Timur, Kamis (9/11) pukul 14.30 WIB. Kini klinik itu dipasang police line sehingga nampak sepi dari segala aktifitas.

"Dia (Helmi) dapat dari orang lain sampai sekarang dia belum menyampaikan orang itu siapa," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Jakarta, Sabtu (11/11/2017).

Argo mengungkapkan Helmi membeli senjata api rakitan revolver senilai Rp25 juta dan jenis FN seharga Rp20 juta. Saat ini, polisi mengirimkan dua pucuk senjata api milik Helmi itu ke Laboratorium Forensik untuk diteliti terkait kepastian jenis senjata api rakitan atau organik.

Argo menambahkan pelaku sempat mengisi amunisi peluru pada senjata api sebelum menemui korban di tempat kerja istrinya itu. Setelah menembak mati istrinya, dengan santai dokter kecantikan ini naik ojek online menuju Polda Metro Jaya untuk menyerahkan diri.

Petugas kepolisian menduga Helmi menembak mati istrinya lantaran persoalan rumah tangga dan enggan bercerai dengan istrinya yang dikawini 5 tahun lalu, tanpa menghasilan keturunan.

Polisi menemukan dua pucuk senjata api jenis revolver rakitan dan FN, serta satu proyektil peluru padahal Helmi melepaskan enam kali tembakan saat menembak Letty.

Ditempat terpisah, Keluarga dr Letty Sultri menyebut pelaku pembunuhan dr Helmi yang juga suami korban lebih banyak menghabiskan waktu bermain game. Secara ekonomi pun, pendapatan dr Letty lebih besar dibandingkan pelaku. "Helmi tidak pernah bekerja sebagai dokter, dia lebih banyak main game. Istrinya yang bekerja," ungkap kakak kandung korban Afifi Bahtiar di rumah duka Jalan Sunan Ampel, Rawamangun,

Afifi melanjutkan, pelaku sosok yang tidak betah jika mempunyai pekerjaan. Meski berprofesi sebagai dokter, Helmi selalu tidak sampai dua bulan berhenti bekerja di mana pun tempatnya. "Setiap diberi kerjaan sebulan berhenti. Kerja sebagai dokter sebulan, ke Kalimantan pernah, enggak tahan pulang. Selalu begitu," ujarnya

Afifi menuturkan, keluarga kerap menasihati Letty perihal sikap suaminya itu.
Tidak hanya korban, pelaku juga beberapa kali diajak bicara menyangkut masalah keluarga itu. o baim