Kamis, 07 Desember 2017

Cantik ...Tetapi ...

Ist.
Beritabatavia.com - Kritik itu membangun
Mencela itu iri
Iri tanda tak mampu
Apapun kebaikan yang diberikan kesalahan yang diberikan......

Melakukan protes, kritik, demo, hingga menggeruduk dengan  massa boleh dikatakan sebagai sikap atau bagian kebebasan dalam berdemokrasi. Namun tatkala diwarnai dan dilandasi dengan kebencian, maka segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan.
Tiada kebaikan, tetapi celaan hinaan terus dilakukan. Nalar atau logikapun ditumpulkan dibuai dengan tiupan-tiupan angin surge. Janji-janji apa saja yang penting senang yang penting menang atau yang penting jatuh dan segera ganti orang.

Siapapun yang menggantikanya akan juga diperlakukan pada hal yang sama. Analoginya ... memuji sekaligus mencela ...cantik ....tetapi.....

ketidak puasan, tidak adanya rasa syukur ini yang terus dihembuskan. Hidup hanyalah mencela, mencari kesalahan dan menjatuhkan. Kemampuan kekayaan sumber daya hanya untuk memenuhi budak nafsu dan tiada lagi hati atau rasa syukur. Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Kekuasaan jabatan dan kewenangan dipujanya. Alat sarana dijadikan tujuan tidak lagi peduli kemanusiaan. Ke mana saja, apa saja,dimana saja dan siapa saja disalahkan dicari kesalahan dan terus dijatuhkan.

Primordial dijadikan alat  untuk menumpulkan nalar dan membutakan hati. Kekerasan, anarkisme pun bagai pameran ketololan yang terus dibanggakan dan diagung agungkan. Rasa cinta akan kebangsaan dan cinta tanah airpun hilang entah kemana. Pembenaran demi pembenaran dengan berbagai dalih mengatasnamakan untuk menghapus kebenaran dan kebaikan.

Kaum-kaum ini adalah kaum lali, yang tidak eling. Eling bukan sekedar ingat namun sadar untuk berbuat kebaikan kebenaran dan demi semakin manusiawinya manusia. Perjuangannya, adalah kemanusiaan dan semakin meningkatnya kualitas hidup. Pamrih menjadi sesuatu yang tabu.

Para bapak bangsa menyadari sejak merancang bangsa ini dan menjaganya dengan amanat konstitusi yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kalimat itu dilupakan bahkan enggan untuk diungkapkan. Dianggap sesuatu yang mengerikan. Sadarkah bila bangsa ini dijajah, berantem antar saudara sebangsa karena kebodohan ? Dieksploitasi karena kedunguan ?

Bangsa ini sudah jatuh bangun, ada kerajaan-kerajaan  yang bubar karena korup dan keserakahan untuk berkuasa. Saling membunuh saling serang, bahkan membiarkan orang asing mengadu domba berabad abad lamanya.
Akankah jaman berulang dengan pergantian masa dan sekaligus orangnya yang diazab ?

Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masa nya. Kita lihat Negara-negara besar yang pernah ada dibangsa ini, Sriwijaya 200 tahunan, Majapahit 200 tahunan, Hindia Belanda 200 tahunan, apakah republik ini akan mengalami demikian ?

Cela mencela terus saling menjatuhkan? ..... Ibarat memuji menunjukkan sesuatu cantik ....namun ada tetapinya.... lagi-lagi hilanglah rasa syukur terus tiada kepuasan cela mencela tiada habisnya....O Brigjen Polisi DR Chrisnanda DL





Berita Terpopuler
Kamis, 07 Desember 2017
Berita Lainnya
Rabu, 23 Agustus 2017
Jumat, 21 Juli 2017
Minggu, 16 Juli 2017
Jumat, 30 Juni 2017
Sabtu, 17 Juni 2017
Kamis, 08 Juni 2017