Jumat, 08 Desember 2017

Menteri PPN/Bappenas Desak DKI Benahi Persediaan Air Bersih

Ist.
Beritabatavia.com -
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera membenahi persediaan air bersih di Ibu Kota. Pembenahan itu harus dilakukan untuk menahan laju penurunan muka tanah karena penyedotan air tanah yang masif.

"Urgensi Pemprov DKI untuk segera membenahi air bersih dan air limbah karena kalau itu segera dibenahi, barangkali penurunan muka tanah bisa agak ditahan," ujar Bambang di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (8/12/2017).

Bambang menjelaskan, penurunan muka tanah memang tidak bisa dihentikan. Namun, penurunan muka tanah itu bisa diperlambat dengan sistem pengelolaan air limbah yang benar untuk diubah menjadi air bersih.

Dengan adanya perlambatan penurunan muka tanah, kata Bambang, tanggul laut yang saat ini dibangun akan bertahan lama. Hal itu merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya banjir di Ibu Kota, termasuk banjir rob.

"Jakarta ini kalau tidak dilakukan apa-apa, akan terjadi penurunan muka tanah kira-kira 7 sentimeter per tahun sehingga kalau tahun 2030 tidak dilakukan apa-apa, maka jakarta akan kena banjir dari dua arah," kata Bambang.

Menurut Bambang, banjir dua arah berasal dari darat dan laut. Oleh karena itulah upaya pencegahan harus dilakukan sejak saat ini. "Yang laut masuk, jadi hampir seluruh Jakarta utara akan kena banjir laut, yang daerah Jakarta yang lebih ke selatan itu akan terkena dampak banjir dari gunung, dari sungai," ucapnya.

Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar persyaratan kualitas air minum seperti diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010. Itu artinya Jakarta sudah dalam tahap mengalami krisis air bersih.

Jakarta Utara merupakan wilayah terparah di mana secara umum CAT air tanahnya mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Disolve Solid) dan DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.

Selain krisis air bersih, Jakarta juga menghadapi problem penurunan muka tanah. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Badan Geologi melalui Balai Konservasi Air Tanah, dalam dua tahun ke belakang dari 200 titik sumur pengamatan (sumur pantau, sumur produksi, sumur gali dan sumur pantek) menunjukkan bahwa sekitar 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar Persyaratan Kualitas Air Minum.

Secara umum di bagian Utara CAT Jakarta air tanahnya mengandung unsur Fe (besi) dengan kadar yang tinggi serta kandungan Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Disolve Solid) dan DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin. Bagian Selatan CAT Jakarta yang menyebabkan air tanah menjadi tidak layak minum adalah dominasi unsur logam seperti Mn (Mangan), Fe (besi) dan Pb (Timbal).

Problem Jakarta bertambah selain krisis air bersih juga menghadapi penurunan muka tanah. Dari hasil pemantauan muka tanah (amblasan tanah) dengan melakukan pengukuran secara visual dan pengukuran menggunakan alat geodetic, memperlihatkan bahwa secara umum laju penurunan tanah di wilayah CAT Jakarta berkisar antara 0 – 18,2 cm/tahun dengan lokasi yang memiliki laju penurunan tanah paling cepat yaitu di daerah Ancol, Pademangan dan Muara Baru- Jakarta Utara. 0 baim


Berita Terpopuler
Senin, 16 April 2018