Senin, 25 Desember 2017

Gara-Gara Telepon, JetStar Delay 9 Jam

Ist.
Beritabatavia.com -  Jadwal penerbangan maskapai JetStar dari Singapura menuju Australia terpaksa mengalami keterlambatan alias delay berkepanjangan sekitar 9 jam akibat sebuah insiden. Tiga orang penumpang pesawat terpaksa diamankan setelah dilaporkan bertikai akibat telepon genggam.

JetStar dengan nomor penerbangan 3K 161 seharusnya berangkat dari Singapura pada Jumat 22 Desember 2017, pukul 20.00 waktu setempat. Rencananya, pesawat tiba di Darwin, Australia pada Sabtu, 05.20 waktu setempat. Namun, keberangkatan malah tertunda dan baru berangkat pada Sabtu, 07.15 waktu Singapura. Demikian dikutip dari laman AsiaOne, Minggu (24/12/2017).

Insiden bermula ketika seorang pria berusia 55 tahun menegur penumpang lain, yang merupakan pasangan suami-istri untuk menonaktifkan telepon selulernya. Tampaknya tak bisa diterima pasangan suami istri. Berawal dari sebuah teguran inilah ketika orang yang tak disebutkan namanya itu terlibat dalam perkelahian verbal.

Awak kabin mencoba meredam pertengkaran. Bukannya berhenti, adu mulut ketiganya makin menjadi-jadi. Pihak keamanan dipanggil untuk naik ke atas pesawat dan mengamankan ketiganya. Belum lagi masalah pertengkaran selesai, salah satu penumpang lain justru melakukan tindakan memperkeruh situasi. Ia berkelakar dengan mengatakan bahwa ada bom di dalam pesawat. Seisi pesawat panik dan para penumpang diminta untuk turun. Ketiga orang yang bertengkar tersebut diamankan untuk diinterogasi.

Para penumpang lain dipindahkan ke sebuah ruangan untuk menunggu jadwal penerbangan lainnya. Dalam pemeriksaannya, polisi sama sekali tak menemukan adanya indikasi penemuan bom atau benda-benda aneh yang dapat mengganggu keamanan.

Pihak maskapai penerbangan juga memberikan kupon makan. Sementara wanita dan anak-anak diberikan tempat istirahat yang nyaman. "Kami lebih mementingkan keselamatan para penumpang sehingga menunda jadwal keberangkatan," ujar Robin Goh, juru bicara JetStar. "Kami juga tak dapat menolerir kerusuhan yang ditimbulkan oleh oknum yang berprilaku tak baik," tambahnya.

Meski pesawat berhasil terbang ke Australia, tak disebutkan apakah pelaku kerusuhan yang menyebabkan jadwal terbang ditunda juga ikut berangkat.

Insiden perkelahian di dalam pesawat bukan pertama kali terjadi. Pada November 2017, penerbangan United Airlines menuju Washington, terpaksa kembali ke Beijing setelah seorang penumpang pesawat terlibat dalam perselisihan.

Pesawat dengan nomor penerbangan UA808 lepas landas dari Beijing Capital International Airport sekitar pukul 19.00 pada 3 November 2017. Namun, dua jam kemudian, burung besi yang mengangkut 212 penumpang itu mengirimkan sebuah kode darurat.

Dikutip dari South China Morning Post, kericuhan itu terjadi saat seorang penumpang terlibat perselisihan dengan seseorang yang duduk di seberangnya. Situasi makin panas saat seorang pramugari mencoba menenangkan keduanya. Namun, mereka menolak untuk tenang.

Awak kabin pun mengeluarkan peringatan pada tingkat ancaman dua -- kasus yang melibatkan perilaku fisik kasar -- setelah gagal mengatasi situasi tersebut.

"Penerbangan 808 dari Beijing ke Washington Dulles, kembali ke Beijing setelah seorang penumpang memulai pertengkaran dengan awak kabin, yang menyebabkan masalah kemanan," ujar Direktur Komunikasi United Airlines, Frank Benanti, kepada South China Morning Post melalui sebuah email.

"Penegak hukum kemudian mencegatnya di pintu pesawat, dan penumpang itu secara sukarela ditahan tanpa insiden," ujar Benanti.

Tidak diketahui apakah penumpang tersebut telah diinterogasi atau ditahan oleh polisi. United Airlines mengatakan, penumpang lain telah diberi akomodasi hotel dan voucher makan. Mereka pun akan diterbangkan ke Washington dengan pesawat diberangkatkan pada 4 November 2017. 0 aoc
Berita Terpopuler
Minggu, 21 Januari 2018