Rabu, 03 Januari 2018

2018, Polisi Bunuh Diri Masih Berpotensi Terjadi

Ist.
Beritabatavia.com - KASUS polisi bunuh diri masih berpotensi tinggi di tahun 2018 meski angka polisi bunuh diri di tahun 2017, turun lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Para pimpinan kepolisian di tingkat polsek, polres, dan unit kerja Brimob diharapkan lebih peduli memperhatikan sikap prilaku anak buahnya agar kasus bunuh diri di lingkungan kepolisian bisa dihindari.

Indonesia Police Watch (IPW) mencatat sepanjang 2017 terjadi tujuh kasus polisi bunuh diri. Jumlah ini turun drastis jika dibandingkan tahun 2016 sebanyak 13 kasus bunuh diri, dan lima kasus percobaan bunuh diri yang pelakunya berhasil diselamatkan nyawanya.

Kasus polisi bunuh diri tahun 2017 ini hampir sama dengan tahun 2015, yakni lima kasus bunuh diri polisi dan dua kasus percobaan bunuh diri. Dari kasus polisi bunuh diri pada 2017 ini ada dua fenomena yang patut dicermati. Pertama, sebagian besar polisi yang bunuh diri melakukan aksinya dengan cara menembak kepalanya sendiri dan hanya satu yang gantung diri.

"Ini mengindikasikan betapa beratnya beban dan tekanan yang mereka hadapi. Mereka tak bisa lagi berpikir realistis dan cenderung mengambil jalan pintas dengan cara menembak kepalanya sendiri," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangan tertulis, Rabu (3/1/2018). 

Dari kasus tersebut, ICW menyimpulkan, pertama, kasus ini sekaligus menunjukkan tingkat kesadisan luar biasa yang dilakukan mereka terhadap dirinya sendiri. Kedua, dari tujuh kasus bunuh diri itu, dua di antaranya dilakukan anggota Brimob karena persoalan sangat sepele, yakni stres dijadikan saksi.

Menurut IPW, peristiwa itu ialami Bripka Teguh Dwiyanto di Tangerang dan Ipda Sasmidias di Palu karena diduga terlalu lama bertugas di daerah konflik. Sebagian besar penyebab polisi nekat bunuh diri akibat masalah keluarga, yakni empat kasus. Kemudian konflik dengan rekan kerja.

Melihat latar belakang ini, IPW merasa khawatir jika tidak diantisipasi, kasus polisi bunuh diri akan meningkat. "Sebab di tahun 2018 beban kerja anggota Polri cukup berat, terutama dalam menjaga keamanan pilkada serentak di berbagai daerah," kata Neta.

Di sisi lain, lanjut dia, ada persoalan akut yang melilit anggota Polri, terutama di jajaran bawah, yaitu persoalan rumah tangga akibat terbatasnya penghasilan sebagai polisi. Persoalan tersebut kerap menjadi tekanan tersendiri bagi anggota Polri dalam menjalankan tugas profesionalnya.

"Ini pula yang kerap menjadi penyebab utama kasus polisi bunuh diri dari tahun ke tahun. Persoalan lain adalah gaya hidup hedonis yang kerap menimbulkan konflik antar teman," tandasnya.

Selain itu, sambung dia, tekanan atasan yang kerap memberikan target untuk pencapaian prestasi atasan itu sendiri."Bagaimana pun masalah akut ini perlu diatasi. Para atasan perlu lebih peduli lagi untuk mencermati bawahannya agar kasus polisi bunuh diri bisa diatasi," tuturnya.

Data Polisi Bunuh Diri 2017

26 Januari :  Bripda Saka Rawan Putra anggota Polda Sumsel gantung diri di rumah temannya.
3 April : Ipda Sasmidias anggota Brimob tembak kepalanya di toilet mesjid di Palu, Sulteng.
15 Mei : Bripka Teguh Dwiyanto anggota Brimob tembak pelipisnya di Tangerang Banten karena jadi saksi kasus penembakan.

7 Juni: Aiptu Fransisco De Araujo anggota Polres Kupang NTT tembak kepalanya di rumahnya.
9 Oktober : Bripda Azan Fikri anggota Polsek Sungai Lilin Sumsel tembak kepalanya setelah batal nikah.
10 Oktober : Bripka Bambang Tejo anggota Polres Blora Jateng tembak kepalanya sendiri setelah menembak mati dua rekannya.
1 Desember : Brigadir Marchel J Tanipa anggota Polres Pulau Aru Maluku tembak kepalanya di depan mertua.
Berita Terpopuler