Selasa, 09 Januari 2018

Puncak Kejengkelan, Pengemudi Metromini Hadang Bus Transjakarta

Ist.
Beritabatavia.com - Puluhan pengemudi dan pengurus Metromini 610 Blok M-Pondok Labu menghadang bus Transjakarta 1E di trayek serupa di Jalan Fatmawati, tepatnya depan RSUP Fatmawati, Selasa (9/1/2018). Penghadangan ini merupakan puncak kejengkelen sopir Metromini yang rutenya dicaplok Bus TransJakarta.

Para pengemudi berkumpul sejak pukul 11.00 tanpa kendaraan mereka. Ketika satu bus Transjakarta 1E ke arah Pondok Labu melintas, para pengemudi langsung menghadangnya. "Setopin, setopin, lihat surat-suratnya, ada izin enggak?" kata para pengemudi.

Sontak, bus transjakarta itu langsung meminggir karena dihadang. Baik petugas on board maupun pramudi transjakarta tak turun sama sekali. Di dalam, ada belasan penumpang yang hanya diam kebingungan.

Petugas Dishub tak lama datang dan menengahi. Anggota Dishub menyanggupi permintaan para pengemudi Metromini 610 yang ingin melihat surat jalan dan trayek transjakarta. Setelah surat ditunjukkan dan sempat terjadi adu argumentasi, bus transjakarta itu dilepas dan berjalan lagi.

Akhir 2017, Transjakarta membuka rute baru 1E Blok M-Pondok Labu serta 8D Blok M-Joglo. Padahal selama bertahun-tahun, rute ini dikuasai metromini 610 (Blok M-Pondok Labu) dan metromini 70 (Blok M-Joglo).

Ishak Lubis, salah seorang sopir metromini yang sudah 20 tahun beroperasi di jalur Blok M-Pondok Labu, meluapkan kekecewaannya atas beroperasinya bus transjakarta baru ini. "Sekarang ada transjakarta, makin enggak ada penumpang-lah, makin terpuruk kita ini," ujar Ishak

Ishak bercerita, kedua rute tersebut mulai dioperasikan PT Transjakarta sejak Jumat lalu. Sebelum itu, kata Ishak, tak pernah ada sosialisasi atau pemberitahuan kepada para sopir metromini untuk berbagi trayek dengan transjakarta. Padahal, Ishak baru memperpanjang trayeknya. "Kemarin saya habis Rp 8 juta perpanjang trayek, sekarang yang ada malah makin sepi," ujarnya.

Menurut Ishak, sudah sepekan ini ia hanya mendapat tiga hingga sepuluh penumpang sekali tarik. Padahal, jumlah bangku ada 27. Akibatnya, kini Ishak hanya bisa mengambil lima rit setiap harinya. "Kalau jalan terus ya rugi kalau nggak ada yang naik. Enggak perlu sampai penuh deh dari Blok M, paling tidak tiga orang saja naik, langsung jalan saya," kata Ishak.

Dengan kondisi seperti ini, Ishak hanya bisa membawa pulang uang Rp 200.000 paling banyak setiap harinya. Keadaan ini sebenarnya bukan baru-baru saja dirasakan. Sejak meledaknya transportasi online beberapa tahun lalu, para sopir metromini mulai merasakan berkurangnya penumpang. Ini diperparah dengan proyek MRT di Jalan Raya Fatmawati yang membuat ruas jalan itu tak seramai dulu.

Ishak berharap, pemerintah tidak melupakan para pengemudi metromini yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung transportasi Ibu Kota. "Kami ngomong enggak pernah ditanggapi, ya sekarang pasrah saja," ujar Ishak. 0 KMP



Berita Terpopuler