Rabu, 17 Januari 2018

Matahari Dept Store Digugat Pasaraya

Ist.
Beritabatavia.com -
Gara-gara menutup gerai seenaknya di pusat perbelanjaan Pasaraya di Manggarai Jakarta, pada Oktober 2017, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) digugat wanprestasi oleh PT Pasaraya Tosersajaya, perusahaan pengelola Pasaraya. Gugatan dilayangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam materi gugatan terkait pemutusan sepihak yang dilakukan Matahari agar bisa terbebas dari kewajiban pembayaran kepada Pasaraya berdasarkan kontrak yang disepakati. Pasaraya juga menilai, Matahari melakukan wanprestasi terhadap sejumlah kontrak kerja sama yang disepakati kedua pihak pada Maret dan November 2015.

Pertama, Matahari tidak membayar biaya layanan (service charge) di dua lokasi Pasaraya yakni, Blok M dan Manggarai. Kedua, penutupan gerai Matahari itu tidak sesuai dengan jangka waktu kontrak yang di teken selama 11 tahun. Ketika dikonfirmasi, kuasa hukum Pasaraya Mulyadi membenarkan hal tersebut.

Berbagai upaya juga dilakukan untuk mendukung bisnis para tenant, termasuk Matahari. Seperti meningkatkan jumlah pengunjung ke kawasan Pasaraya Blok M yang mencapai lebih dari 10.000 – 12.000 orang per hari.

Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2015. Hal ini dipicu oleh masuknya sejumlah perusahaan IT dan startup di kompleks perkantoran Sentraya milik Pasaraya Grup.

Sayangnya, melonjaknya pengunjung di kompleks Pasaraya Blok M ternyata tidak mampu mendukung kinerja Matahari. Apalagi penutupan gerai di Pasaraya diikuti oleh penutupan gerai Matahari di sejumlah tempat. Seperti di Mall Taman Anggrek, sementara gerai Matahari di Pluit Village dan Pejaten Village juga tutup masing-masing 1 lantai.

Langkah sepihak Matahari yang mengakhiri kerja sama dianggap tidak etis dan tidak serta merta menggugurkan kewajiban mereka terhadap Pasaraya. "Mereka (Matahari) harus tetap membayar kewajiban yang sudah dipenuhi oleh Pasaraya. Jika kontrak yang sudah sah secara hukum begitu mudahnya diingkari, ini akan berbahaya bagi kepastian investasi dan meresahkan pelaku usaha," tegas Mulyadi, kuasa hukum Pasaraya.

Adapun dalam gugatannya, Pasaraya meminta pembayaran lunas dari beberapa kewajiban Matahari yakni, perjanjian sewa di Blok M dan Manggarai dengan masing-masing sebesar Rp 17,38 miliar dan Rp 12,24 miliar. Kemudian sisa pembayaran sewa sejumlah Rp 230,74 miliar di Blok M dan Rp 125,9 miliar di Manggarai.

Pasaraya juga meminta Matahari untuk membayar bunga sebesar 6% dari utang pokok senilai Rp 25,66 miliar. Serta uang paksa (dwangsom) Rp 1 juta per harinya jika keterlambatan menjalankan isi putusan perkara. 0 day





Berita Terpopuler