Senin, 22 Januari 2018

Kisah Batavia Melahirkan Betawi

Ist.
Beritabatavia.com - Konon, cikal bakal Batavia sekarang menjadi kota metropolitan Jakarta, sekaligus ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berasal dari sebuah bandar kecil di muara sungai Ciliwung yang kemudian menjelma menjadi pusat perdagangan internasional.

Sayangnya, sebelum bangsa Eropa datang, catatan tentang Sunda Kalapa, Jayakarta hingga Batavia sangat sedikit, sehingga   tak dapat menjelaskan era sebelumnya.Sementara, etnis Betawi yang disebut sebagai penduduk asli Jakarta baru dikenal setelah berdirinya pemerintahan Belanda di Batavia.

Keberadaan suku Betawi, menjadi bagian dari sejarah yang mewarnai kisah berdirinya Batavia. Meskipun sebutan Batavia muncul setelah pemerintahan Belanda, tetapi sejarah bangsa Indonesia mencatat suku Betawi adalah penduduk asli Jakarta.

Kisah Jakarta mulai terkuak pada abad ke 16 melalui tulisan orang-orang Eropa. Disebutkan, awalnya  sebuah kota bernama Kalapa yang menjadi bandar utama bagi kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat kota Bogor sekarang. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah berhasil menguasai dan mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527 yang kemudian diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta.

Pada akhir abad 16, Belanda datang dan kemudian menguasai Jayakarta, lalu mengganti namanya menjadi  Batavia. Karena alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, lalu mereka membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dikawasan yang lebih tinggi yang dinamakan Weltevreden.

Pasca kemerdekaan hingga reformasi sampai era modern saat ini, kita mengenal Betawi sebagai suku asli penduduk Jakarta. Meskipun berbagai penelitian menyebutkan, sebutan Betawi dengan bahasa Melayukreol dan kebudayaan Melayu berasal dari kata Batavia.  Etnis Betawi adalah  keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa seperti Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa dengan etnis yang didatangkan Belanda ke Batavia. Bahkan di masa pemerintahan Belanda, keberadaan suku Betawi belum tercatat. Sehingga suku Betawi merupakan pendatang baru di Jakarta.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Baru pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Penjelasan serupa juga disampaikan Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923. Ketika Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi, barulah segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional. Hal ini terjadi karena pada abad ke-6, kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanagara yang terletak di bagian utara Jakarta sehingga pengaruh bahasa Melayu sangat kuat disini.

Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkimpoian campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkimpoian berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab. Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

Tetapi,keberadaan suku Betawi telah ikut menggoreskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Selain bagian dari sejarah, Betawi menjadi slot penting yang memperkaya kasanah budaya yang memberikan aroma sensasi, sekaligus perekat dalam upaya melestarikan kebhinekaan agar tetap terjaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. O Edison Siahaan /disadur dari www.infobudaya.com

Berita Terpopuler