Kamis, 01 Februari 2018

Indonesia Membutuhkan Kepiawaian Jenderal Tito Karnavian

Ist.
Beritabatavia.com - Polri merupakan institusi yang posisinya ditengah-tengah berbagai kepentingan dari mulai para pencari keadilan, kepentingan aktor-aktor pelaku kriminal, hingga punggawa politik, bahkan tekanan dunia internasional.
 
Komisioner Komnas HAM periode 2012-2017, Natalius Pigai, mengatakan, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tengah menghadapi dilema dan serbuah dari delapan penjuru mata angin. Tetapi Polri masih beruntung, karena memiliki sosok Jenderal Prof Tito Karnavian, sehingga mampu mengendalikan kondisi yang sulit.

"Saat negara ini berada pada turbulensi politik yang tinggi, dimana semua orang berharap kepolisian sebagai alat pemukul lawan. Namun dengan kepiawaian seorang Jenderal Prof Dr. Tito Karnavian mampu menjaga Marwah institusi kepolisian saat ini," kata Natalius Pigai, Kamis (1/2).

Menurutnya, Jenderal Tito menyadari bahwa Kepolisian adalah satu lembaga negara yang dekat dengan rakyat, para pencari keadilan. Tetapi tidak menjadi lupa saat mendapat pujian, dan siap menerima saat dihujat, dicaci maki. Jenderal Tito Karnavian tetap berusaha menegakkan hukum secara berkeadilan. Jenderal Tito juga tetap berusaha untuk menjaga agar tegaknya Pancasila dan UUD, NKRI dan Kebhinekaan Bangsa.

"Tidak banyak yang tahu, Proses hukum yang begitu cepat terhadap kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kepolisian berani mengambil keputusan disaat adanya benturan tuntutan mayoritas umat muslim dan kepastian jaminan perlindungan bagi kaum minoritas. Di tengah dilema kepolisian menegakkan keadilan dan Pengadilan memutuskan Ahok bersalah. Semua itu terjadi karena seorang Tito Karnavian," ujar Natalius Pigai yang juga ketua tim pembela Habib Rizieq, Para Ulama dan Aktivis ini.

Pri asal Papua itu melanjutkan,  ketika proses hukum terhadap para ulama, ustad, ustadah, habib, habaib, umat muslim dan aktivis, semuanya berakhir dengan baik tanpa melalui proses penegakan hukum dengan mengedepankan pendekatan ketat (crime control model) dan Tito sebagai Kapolri mengontrol agar citra, harkat dan martabat para pemimpin muslim tetap terjaga.
Sebagai intelektual, Natalius melanjutkan, Jendral Tito menyadari betul bahwa saat ini adanya gempuran dunia internasional dengan membangun framing negatif atau stereotipe negatif terhadap muslim.

Dikatakan, Habib Rizieq Shihab pemimpin muslim Indonesia, Ulama Besar adalah target utama bagi orang-orang yang menjalankan praktik Islamopobia yang telah menghancurkan imperium Islam dan peradabaanya di Dunia Arab. Dunia Arab dihancurkan dengan memberangus situs-situs tua sebagai simbol imperium Islam dan pusat peradaban Islam mulai beralih ke ke kawasan Asia Tenggara dan Indonesia sebagai tujuan ekspansi Islam Transnasional. Habis Rizieq adalah figur sentral yang mampu membangun peradaban dan kedigdayaan Islam.

Bagaimanapun, Tito seorang intelektual muslim asal Palembang memainkan peran sentral menyelamatkan harkat dan martabat Habib Rizieq sebagai simbol tokoh muslim berpengaruh di negeri ini. Memang tidak mudah menegaskan hukum tetapi lebih sulit menjaga nama, harkat mulia tokoh-tokoh panutan umat muslim.

“Semua ini saya saksikan sendiri sebagai Ketua Tim Pembela Habib Rizieq, para ulama, Umat Muslim, aktivis baik di Komnas HAM maupun juga sebagai aktivis kemanusiaan,”tegasnya.

Menurutnya, pernyataan Jenderal Tito bahwa hanya NU dan Muhamadiyah adalah NKRI, pernyataan itu menunjukkan kecerdasan intelektualnya yang tidak banyak diketahui bahwa itu hanya sebuah pancingan agar semua komponen muslim selain NU dan Muhamadiyah keluar dari sanubarinya untuk menyatakan secara lantang mengakui Pancasila dan NKRI sebagai landas pijak. Sebagaimana yang dilakukan oleh NU dan Muhammadiyah.

Pernyataan Jenderal Tito Karnavian harus diapresiasi karena pernyataan itulah merekatkan semua rakyat Indonesia mengerti akan posisi dan jati diri orang-orang Islam yang selama ini diabaikan dan dicurigai oleh negara sebagai bagian tidak terpisahkan dari negeri ini.

Standar berfikir negara tentang Pancasila dan NKRI adalah standar berfikir pada Tito sebagai Kepala Kepolisian RI yang bertugas menegakkan simbol-simbol negara bangsa. Dan Pernyataan Jenderal Tito adalah melaksanakan tugas sebagai punggawa NKRI sebagai pemimpin tertinggi kepolisian RI.

"Mari kita sudahi Polemik ini, toh Tito adalah seorang anak muslim dari pedalaman Palembang yang mengerti Islam sejak hayat dikandung badan!," tegas Natalius Pigai.O son