Rabu, 14 Februari 2018

Pelecehan Seksual Mengguncang Jatinegara

Ist.
Beritabatavia.com - Kasus pelecehan seksual kembali terjadi, untungnya tertangkap basah kamera CCTV. Kasus itu melanda warga warga Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur. Korbannya bernama DK. Insiden terjadi pada 6 Februari 2018 sekitar pukul 20.30. Korban DK hendak pergi ke warung untuk membeli makanan, hanya menggunakan daster.

Kapolsek Jatinegara Kompol Supadi, menjelaskan kondisi lingkungan rumah korban memang relatif sepi, termasuk saat kejadian berlangsung. "Korban sedang jalan, lalu tiba-tiba dari belakang pelaku menyekap korban sambil memegang payudara korban. Korban berontak, lalu keduanya sempat terjatuh," ucap Kapolsek Jatinegara Kompol Supadi, Rabu (14/2/2018).

Usai menerima laporan korban pada 12 Februari 2018, polisi langsung melalukan upaya mengumpulkan bukti-bukti. Mulai dari memeriksa saksi, melakukan pengecekan TKP, sampai mempelajari rekaman CCTV yang dipasang di lingkugan tempat tinggal korban.

Selasa (13/2/2018) pagi, Tim Reskrim Polsek Jatinegara langsung menangkap pelaku yang diketahui berinisial RA (22). Pelaku diamankan petugas di kediamannya ternyata masih satu wilayah dengan korban. Dari pemeriksaan awal, polisi mendapat keterangan bahwa RA melakukan hal tersebut lantaran nafsu melihat korban yang keluar menggunakan daster.

Sampai saat ini, polisi terus melakukan pendalaman lain, kemungkinan ada motif lain. Kini RA sudah dijebloskan penjara untuk bertanggung jawab atas perbuatanya.

Memang, Kasus pelecehan seksual bukan pertama kalinya terjadi. Beberapa waktu lalu peristiwa serupa juga terjadi di Depok, Jawa Barat.
Saat itu pelaku berinisial ISL (29) ditangkap Polres Kota Depok pada 16 Januari 2018. Tersangka mengaku melakukan pelecehan seksual karena iseng.

Penyakit  masyarakat

Menyikapi hal ini, Anggota DPR RI Komisi XI Irma Suryani, ikut angkat bicara. Menurutnya kondisi ini sudah menjadi salah penyakit sosial di lingkungan masyarakat yang harus segera diberantas. "Kalau didiamkan, mungkin akan banyak lagi korbannya, bahkan pelaku juga bisa berkembang. Polisi yang menangkap harus bisa memberikan efek jera kepada pelaku," ucap Irma.

Dilanjutkan, terungkapnya dua kasus di atas hanya segelintir dari banyak kasus selama ini "tidur" dan tidak terungkap. Penyebabnya karena ada efek pembiaran, baik dari korban atau jajaran penegak hukum. "Kadang korban malu untuk mengungkap, makanya tidak pernah terungkap. Namun dengan era seperti ini yang sudah menggunakan CCTV, saya rasa polisi bisa bertindak tanpa harus menunggu korban melapor lebih dahulu," ucapnya.

Di Indonesia perlindungan hukum untuk wanita minim bahkan terbilang lemah. Hal ini yang membuat wanita rentan dijadikan sasaran empuk baik untuk tindak kekerasan atau pencabulan. "Gini banyak kasus yang dapati korban tak melapor lantaran malu dan takut. Kenapa takut, ini erat kaitanya dengan budaya timur kita, ada yang keluarganya sudah tahu tapi tidak melapor karena takut menjadi aib," ujarnya.

Bahkan, lanjut Irma, pada beberapa daerah ada korban yang sampai diperkosa, tetapi saat mengadu malah dicerikan oleh suaminya. "Ini kan tidak benar, harus diubah pola pikirnya, korban ini sudah jadi korban, jangan ditambah lagi bebannya dengan menjadikanya korban dalam rumah tangga atau keluarga," paparnya.

Irma berharap dari banyak kasus yang terjadi, kaum wanita bisa lebih waspada dalam menjaga diri. Ia juga meminta aparat hukum bisa lebih serius menangani masalah pelecehan seksual terhadap wanita. 0 KMP


Berita Terpopuler
Kamis, 15 November 2018