Sabtu, 24 Februari 2018

Strategi Memerangi Narkoba

Ist.
Beritabatavia.com - Narkotik dan obat berbahaya (narkoba) di Indonesia seperti sinetron dilayar kaca yang belum diketahui pasti kapan berakhir. Drama narkoba yang tidak ada habisnya membuat aparat penegak hukum kehilangan waktu  jeda berperang melawan dan memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba.
 
Sangat layak untuk memberikan apresiasi tertinggi kepada seluruh personil instansi dan lembaga yang berhasil menangkap dua kapal asing yang membawa jumlah total 4,6 ton narkoba jenis sabu ke Indonesia.

Sayangnya, kerja keras aparat penegak hukum seperti tidak memberikan dampak efektif untuk menjadikan Indonesia terbebas dari narkoba ? Hendaknya, perlu segera dilakukan evaluasi menyeluruh terkait upaya dan cara  pemberantasan dan pencegahan peredaran serta penyalahgunaan narkoba di bumi Indonesia.

Untuk itu, penyelundupan 4,6 ton sabu yang berhasil digagalkan oleh aparat penegak hukum dan bea-cukai pada pekan ini, jangan lagi dilihat hanya dari sisi pelanggaran hukum. Tetapi, perbuatan para sindikat narkoba tersebut adalah bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI dan hukum positif Indonesia.
 
Penyeludupan 4,6 ton sabu adalah fakta bahwa para sindikat narkoba tidak lagi memperkirakan risiko jika menyeludupkan narkoba dengan jumlah yang sangat besar ke Indonesia. Dengan kata lain dapat juga disebut bahwa Indonesia adalah sebuah Negara tak bertuan yang bebas melakukan apa saja. Bahkan hukum di Indonesia sudah lagi tidak menjadi kendala serius meskipun menyeludupkan 4,6 ton sabu.

Hendaknya, peristiwa ini menjadi momentum bagi pemerintah dan seluruh instansi serta lembaga bersama rakyat Indonesia untuk membuktikan NKRI masih memiliki kedaulatan hukum yang harus ditegakkan dan diimplementasikan secara profesional serta dapat dipercaya.

Meskipun permasalahan narkoba tidak lagi cukup hanya fokus pada upaya refresif dengan menggunakan pasal-pasal yang tertera dalam undang-undang. Karena ratusan bahkan ribuan pelaku yang terlibat dalam kasus narkoba sudah dijatuhi vonis oleh majelis hakim.Hukuman penjara hingga hukuman mati juga sudah diterapkan, tetapi tak berdampak efektif.Justru bangsa Indonesia semakin dilanda kecemasan akibat peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang masif  bahkan kian tak terkendali.

Kita tidak boleh lupa, peredaran narkoba adalah bisnis yang memiliki nilai ekonomi yang sangat fantastis. Sehingga prinsip dasar ekonomi yaitu apabila intensitas konsumen meningkat maka produksi dan distribusi juga akan meningkat, tentu berlaku dalam bisnis narkoba. Sebaliknya, dapat dipastikan, Indonesia tidak akan menjadi surga bagi para sindikat narkoba, apabila jumlah pengguna narkoba dapat ditekan atau masyarakat Indonesia sama sekali tidak mengkomsumsi narkoba.

Sementara berdasarkan data yang dimiliki Badan Narkoba Nasional (BNN) jumlah pecandu narkoba di Indonesia sudah mencapai angka 7 juta orang. Meskipun berdasarkan data empiris jumlah tersebut jauh lebih besar, sehingga Indonesia menjadi pasar yang menggiurkan bagi para sindikat narkoba.

Hendaknya, pemberantasan narkoba oleh aparat penegak hukum juga disertai upaya pengendalian dengan operasi pasar. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah upaya persuasif untuk membangun kesadaran masyarakat agar tidak lagi mengkomsumsi narkoba. Untuk itu, pemerintah harus lebih fokus pada program yang melibatkan seluruh elemen masyarakat yang efektif membangun kesadaran bahwa narkoba bukan budaya Bangsa Indonesia.

Upaya persuasif untuk mengendalikan kondisi sosial dilakukan tanpa kekerasan, tetapi bersifat membujuk,mengajak,menyarankan dan membimbing masyarakat agar tumbuh kesadaran dan ketaatan terhadap aturan maupun bahaya narkoba serta risikonya. Upaya persuasif akan efektif apabila dilakukan lewat diskusi yang menarik perhatian khususnya bagi kalangan pemuda.Kegiatan diskusi atau forum kecil yang digelar secara konsisten dan berkesinambungan untuk merestorasi kehidupan sosial dan perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat Indonesia.
 
Maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang tentu meresahkan masyarakat, hendaknya dijadikan pemerintah sebagai landasan agar program diawali dengan pembangunan jiwa sebelum membangun badan. Karena penegakan hukum akan efektif apabila kesejahteraan jiwa masyarakatnya sudah disertai dengan kesadaran hukum. O Edison Siahaan




Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 03 Juni 2018
Rabu, 23 Mei 2018
Kamis, 17 Mei 2018
Rabu, 16 Mei 2018
Senin, 14 Mei 2018
Jumat, 27 April 2018