Sabtu, 03 Maret 2018

Kedubes Perancis & Markas Militer Diserang, 28 Tewas

Ist.
Beritabatavia.com -
Lusinan orang tewas dalam serangan ke Kedutaan Besar Perancis dan Markas Militer di Burkina Faso kemarin. Otoritas menduga serangan itu dilakukan kelompok militan Islam, meski belum ada yang memberikan konfirmasi bertanggung jawab atas teror itu.

Juru bicara pemerintah Burkina Faso mengatakan serangan ke markas militer adalah bom bunuh diri menggunakan mobil. Salah satu negara di kawasan Afrika Barat itu sendiri sedang menggelar pertemuan G5 kawasan Sahel soal upaya antiterorisme.

Para pejabat dari Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania, dan Niger menggelar pertemuan itu untuk membangun pasukan bersama melawan kelompok militan dan teroris yang bermarkas di gurun Sahara.

Dalam serangan ke markas militer, sebanyak delapan prajurit tewas terkena ledakan. Dan, untuk serangan ke Kedubes AS yang berada di ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou sebanyak 80 orang terluka. Menteri Keamanan Burkina Faso, Clement Sawadogo menyatakan sebanyak 8 pelaku teror tewas--empat di depan Kedubes Perancis dan sisanya di markas militer.

Berdasarkan penelusuran yang dilansir dari AFP, setidaknya 28 orang tewas dalam serangan bom mobil ke markas militer. Sementara itu, pemerintah Perancis mengonfirmasi hingga detik ini tak ada warga negaranya yang menjadi korban jiwa dalam teror tersebut.

Seorang saksimata mengatakan, pada pagi menjelang Siang, Jumat (2/3) sebanyak lima pria bersenjata keluar dari mobil dan menembaki Kedubes Perancis. Di saat yang sama, saksi lain mengatakan sebuah bom meledak di dekat markas militer yang berjarak sekitar 1 km dari titik serangan pertama, Kedubes Perancis.

Sawadogo mengatakan pertemuan G5 sebetulnya dijadwalkan digelar pula di markas militer negaranaya, namun itu telah dipindah tempat.
"Mungkin itu menargetkan [pertemuan G5]. Tapi kami belum tahu pasti sampai dengan saat ini," kata Sawadogo.

Pertemuan G5 yang digelar di Burkina Faso akan membicarakan kekuatan pasukan tempur hingga 5.000 prajurit gabungan untuk melakukan operasi melawan kelompok militan. Sebelumnya, pasukan gabungan itu sudah melakukan operasi melawan kelompok miiltan dengan bantuan militer Perancis.

Menanggapi serangan di Burkina Faso, Presiden Niger yang juga pemimpin G5, Mahamadou Issoufou mengatakan itu hanya akan memperkuat kerjasama pihaknya memberantas kelompok militan.

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian mengatakan kerusakan di kantor kedubesnya yang berada di ibu kota Burkina Faso itu mengalami kerusakan minor. Dia mengatakan Kedubes akan beroperasi normal kembali dalam dua atau tiga hari kemudian.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang kebetulan sedang melakukan lawatan ke negara tetangga Burkina Faso, Mali , mengutuk teror ke Kedubes Perancis dan markas militer itu. Ia pun mendukung upaya mengembangkan stabilitas di kawasan Sahara. 0 AFP
Berita Terpopuler