Selasa, 06 Maret 2018

Jalan Jatibaru Ditutup, Pungli Lapak Merajalela

Ist.
Beritabatavia.com - Pasca penutupan Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, kini masalah baru muncul. Lapak ratusan pedagang kaki lima (PKL) menjadi korban dugaan praktik pungutan liar (pungli). Laporan merajalelanya Pungli disampaikan Jack Boyd Lapian, Sekretaris Jenderal Cyber Indonesia.

Jack mengatakan, dirinya melaporkan Anies berdasarkan keresahan masyarakat kepada Cyber Indonesia dalam media sosial secara privat.
Selain itu, saat tim Cyber Indonesia melakukan investigasi akhir Januari 2018 bahwa banyak pihak yang dirugikan dampak penutupan jalan tersebut. Mulai dari sopir angkutan kota, warga setempat, pejalan kaki, hingga pengguna jalan yang melintas.

“Jadi sekali lagi saya minta ada kajian tahap dua, Pak Anies dibantu pak Wagub (Sandiaga Uno) semoga mengembalikan lagi fungsinya dan agar berhati-hati agar kepala daerah khususnya mengeluarkan kebijakan jangan buru-buru, ini terkesan tergesa-gesa dan ada indikasi di lapangan ada pungli, ada indikasi,” kata Jack usai menjalani pemeriksan di Polda Metro Jaya, Senin kemarin.

Temuannya tersebut, terkait dugaan pungli, menurut Jack, juga telah disampaikan kepada penyidik dan dimuat dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dirinya hari ini. “Dugaan (pungli), sudah kami sampaikan ada buktinya ada lampiran, itu sudah masuk ranah penyidikan jadi kami ga bisa sampaikan,” kata dia.

Kendati demikian, Jack mengaku belum mengetahui oknum yang melakukan pungli terhadap para pedagang yang diberi lapak tersebut.
“Kami kan ga tahu duit lari ke mana kalau kita hitung ada total satu bulan sekitar hampir Rp 2 miliar, Rp 1 miliar lebih dalam satu bulan. Untuk total, ditambah ada pungli hariannya juga Rp 20 ribu. Dugaan ya,” ucap dia.

Saat dipertegas apakah dari pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang melakukan pungli, Jack enggan berkomentar. Menurutnya, penyidik yang akan mendalami temuannya tersebut. “No komen. Itu masuk penyelidikan biar berproses,” ucapnya.

Menurut Jack, seluruh pedagang yang mendapat lapak di Jalan Jatibaru diharuskan membayar upeti sebesar Rp 20 ribu namun dirinya minta untuk dibuktikan secara hukum hasil investigasi dirinya. Disebutkan, dengan ditutupnya jalan maka digunakan untuk lapak PKL dan setelah ada pedagang baru terjadi pungli tersebut.

“Kalau pungli itu kan lebih akibat, dalam tanda kutip ya akibat dari adanya PKL, makanya sekali lagi saya fokusnya pada pasal yang saya laporkan saja nanti kalau masalah pungli biar di proses saja karena itu kan masih dugaan ya,” bebernya.

Tidak hanya itu, dalam investigasi yang dirinya dan tim Cyber Indonesia lakukan menemukan beberapa PKL tidak tercatat sebagai warga Jakarta. Dengan demikian, bisa diduga ada praktik jual beli lapak.

“Ya itu tadi, akibat ya, ini kan dari dampak apa namanya pasal tadi akhirnya mungkin ada analisa dilapangan yang kami lihat ada dugaan pungli. Ada beberapa yang kita temukan (pedagang bukan KTP DKI),” sambungnya. 0 PKC