Selasa, 13 Maret 2018

Jepang Pilih Robot Ketimbang Tenaga Kerja Asing

Ist.
Beritabatavia.com -
Krisis tenaga kerja melanda Jepang akibat menyusutnya angka populasi di Negeri Sakura tersebut. Meski bukan untuk yang pertama kalinya, krisis ini merupakan yang terburuk dalam 25 tahun terakhir.

Para pakar ekonomi telah sering mengajukan usulan kepada Perdana Menteri Shinzo Abe untuk membuka jalan dengan melonggarkan aturan bagi tenaga kerja asing agar bisa lebih leluasa datang dan bekerja di sana.

Para pakar ekonomi telah sering mengajukan usulan kepada Perdana Menteri Shinzo Abe untuk melonggarkan aturan terkait imigrasi, dengan membuka jalan bagi tenaga kerja asing agar bisa lebih leluasa datang dan bekerja di sana.

Tapi ternyata pemerintah punya solusi lain terhadap krisis tenaga kerja, yaitu menggunakan kecerdasan buatan alias robot dan tenaga kerja perempuan yang sudah berumur.

"Meski otonom bisa memitigasi penyusutan jumlah populasi, tapi imigrasi besar-besaran akan menjadi solusi (yang lebih baik)," kata Kohei Iwahara, ekonom dari Natixis Japan Securities, yang khawatir dengan kebijakan pemerintah tersebut seperti dilansir CNBC.

Sejauh ini, Jepang hanya mengizinkan pekerja asing untuk bekerja sementara di sana. Stephen Nagy, profesor di International Christian University di Tokyo mengatakan bahwa Jepang menginginkan pekerja migran, bukan imigran.

Pekerja asing tersebut pun hanya boleh masuk ke dalam sektor pekerjaan kelas bawah, manufaktur, perawatan orang tua, dan bidang lain yang kekurangan tenaga kerja. Namun Tokyo tidak ingin pekerja tersebut menjadi karyawan permanen.

Menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketiga dunia, Jepang memiliki alasan sendiri mengapa negaranya sangat tegas dalam membuat aturan mempekerjakan tenaga asing di negaranya.

"Ada kekhawatiran kalau Jepang akan menghadapi masalah sosial dan peningkatan kriminalitas kalau (Jepang) membuka jalan bagi pekerja asing yang tidak berasimilasi," ucap Jeff Kingston, profesor di Temple University di Jepang. 0 CNBC