Selasa, 20 Maret 2018

Suap Garuda Indonesia, KPK Periksa Adiguna Sutowo

Ist.
Beritabatavia.com -
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Adiguna Sutowo. Pemeriksaan ini terkait kasus penyuapan terhadap Emirsyah Satar, mantan Dirut Garuda Indonesia. Pemeriksaan Adiguna Sutowo masih menjadi saksi untuk melengkapi berkas perkara Emirsyah Satar.

Nama Adiguna Sutowo mencuat setelah pada malam pergantian tahun 2005, dia menembak mati Haerudy Natong alias Rudy, pelayan pada Fluid Club and Lounge Hotel Hilton yang kini telah berganti nama menjadi Hotel Sultan.

Setelah menjalani proses hukum, nama Adiguna kembali mencuat pada 2013 setelah rumahnya di Pulomas, Jakarta Timur yang ditempati istri keduanya, Vika diduga dirusak oleh Anastasia Florina Limasnax alias Flo, yang kala itu merupakan istri gitaris grup Band Padi, Piyu. Konon perusakan rumah tersebut berkaitan dengan hubungan asmara dan kecemburuan.

Lalu, mengapa putra Jenderal (purnawirawan) Ibnu Sutowo itu diperiksa KPK pada Selasa (20/3/2018)? Rupanya jejak Adiguna nampak dalam grup usaha Mugi Rekso Abadi (MRA). Adiguna pernah tercatat sebagai petinggi perusahaan holding tersebut dan petinggi grup lainnya Soetikno Soedarjo, saat ini berstatus tersangka penyuap Emirsyah Satar terkait pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls Royce tersebut.

Emirsyah Satar disangka telah menerima suap sebesar 1,2 juta Euro dan US$180.000 atau setara dengan Rp20 miliar, dari Rolls Rocye, Ltd. Emir juga dianggap menerima gratifikasi barang senilai US$2 dari perusahaan yang sama.

Dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Emirsyah ini berkaitan dengan pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 pada PT. Garuda Indonesia, Tbk.

Keterlibatan kasus suap ini tidak lepas dari peran Soetikno Soedarjo yang merupakan beneficial owner dari Connaught International Pte.Ltd perusahaan Singapura. Di Indonesia Soetikno menjabat sebagai petinggi PT Mugi Rekso Abadi (MRA).

Dalam ppersidangan lanjutan Founder Roll Royce telah mengaku melebarkan sayap perusahaan dengan memberi profit kepada petinggi di dunia, antara lain Malaysia, Thailand, Brasil, Anggola dan salah satunya Indonesia.

Laporan ini kemudian diproses oleh Corruption Practices Investigation Bureau (CPIB) Singapura dan SFO Inggris. Dari laporan tersebut, berikut pengakuan dan alat bukti keterlibatan Emirsyah Satar kangsung ditanggapi KPK dengan melakukan pembekuan aset Emirsyah di luar negeri. 0 DAY