Selasa, 03 April 2018

Organda Jakarta Klaim Banyak Anggotanya Bangkrut

Ist.
Beritabatavia.com -
Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta mengaku dalam empat tahun terakhir banyak perusahaan transportasi yang bangkrut, meski tak menyebut angka pasti. Organda menuding hal ini disebabkan menjamurnya angkutan berbasis aplikasi online.

Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menyatakan, tak hanya bangkrut, segelintir perusahaan transportasi masih tersisa terpaksa mengurangi jumlah armada secara signifikan. Dicontohkan Taxiku kini terpaksa hanya mengoperasikan 100 unit kendaraan dari sebelumnya 2.500 unit.

"Sudah empat tahun berjalan industri transportasi di seluruh Indonesia hancur karena ketidaktegasan pemerintah menerapkan aturan," kata Shafruhan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (03/04/2018).

Dilanjutkan, bangkrutnya perusahaan transportasi ini tidak adil. Sebab perusahaan transportasi dianggap merupakan pihak yang selalu mentaati regulasi peraturan perundang-undangan. Salah satunya terikat peraturan tarif.

Berbeda dengan angkutan online yang dianggap Shafruhan tidak berizin. Sehingga bisa menentukan tarif tanpa terikat aturan. "Kendaraan pelat hitam yang tidak berizin dengan leluasa beroperasi tanpa hambatan yang berarti. Sementara angkutan umum yang resmi, telat kir saja sudah diambil tindakan pengandangan. Sungguh miris sekali kondisi perusahaan transportasi resmi saat ini," ucap Shafruhan.

Menurutnya pemerintah seharusnya bisa bertindak tegas terhadap angkutan online yang menyalahi aturan tarif. Acuannya jelas, yakni Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 hasil revisi PM 32 dan PM 26.

"Beberapa waktu lalu Menhub mengatakan akan menindak tegas taksi online yang melanggar aturan. Kemudian demo-lah para sopir angkutan online itu ke Istana. Negeri ini sudah kehilangan wibawa. Hanya gara-gara demo, peraturan jadi tidak ditegakan," kata Shafruhan seperti dikutip laman Kontan.co.id

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memang sempat mengakui goyahnya keuangan perusahaan transportasi seperti operator taksi konvensional diakibatkan kehadiran taksi online.

Kini, Kemenhub merumuskan kembali peraturan tentang taksi online, setelah Mahkamah Agung membatalkan 14 poin dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaran Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Adanya aturan itu akan tercipta kesetaraan antara taksi konvesional dan taksi online sehingga persaingan bisnis bisa semakin baik.

Namun demikian, Budi menyatakan perusahaan transportasi seperti operator taksi konvensional juga perlu berbenah, salah satunya berinovasi memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Hal ini dinilai Menhub sangat penting agar perusahaan taksi konvensional tidak terlena dengan zona nyaman.  “Perubahan itu keniscayaan dan akan datang dengan sendirinya,” kata Budi 0 KON

Berita Terpopuler
Senin, 10 Desember 2018
Berita Lainnya
Sabtu, 24 November 2018
Kamis, 22 November 2018
Selasa, 20 November 2018
Senin, 19 November 2018
Minggu, 18 November 2018
Sabtu, 17 November 2018
Jumat, 16 November 2018
Kamis, 15 November 2018
Selasa, 13 November 2018
Senin, 12 November 2018
Senin, 12 November 2018
Minggu, 11 November 2018