Jumat, 13 April 2018

Revitalisasi Dipasena Perlu Libatkan Swasta

Ist.
Beritabatavia.com - Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih mendukung rekomendasi Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) untuk membangkitkan kembali pertambakan udang Dipasena di Lampung dengan menempatkannya sebagai proyek strategis nasional (PSN).

Dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (13/4), dia mengingatkan bahwa pengelolaan pertambakan udang terbesar di dunia itu haruslah tetap secara murni bisnis yang modern, yang berkelanjutan dan tetap ditangani oleh swasta.

Sebelumnya, KEIN dalam waktu dekat akan meminta Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan kawasan Bumi Dipasena sebagai proyek strategis nasional dan dengan menempatkannya di bawah presiden. Ini dikemukakan oleh anggota KEIN M. Najikh seusai rapat revitalisasi tambak udang rakyat Bumi Dipasena di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin, (26/3).

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa Indonesia dengan garis pantai 95.185 km atau terpanjang kedua di dunia memiliki potensi lahan pesisir untuk tambak udang 3 juta Ha atau terluas di dunia. Mantan menteri perikanan itu mengingatkan, Indonesia seharusnya menjadi produsen dan eksportir udang budi daya terbesar di dunia.

Bungaran Saragih, Menteri Pertanian pada periode 2000—2004, dalam keterangannya, mengatakan bahwa jika pemerintah berkeinginan terlibat dalam revitalisasi atau rehabilitasi pertambakan Dipasena, sebaiknya itu dalam investasi infrastrukur.

Hal itu dinilai sebagai merupakan kewajiban pemerintah. Namun, pengelolalaanya haruslah tetap secara bisnis swasta. Kalau pun pemerintah ikut serta dalam pengelolaannya, itu diwakili oleh BUMN. “Jadi, joint-venture antara swasta dengan BUMN bidang Perikanan dan harus dengan tetap melibatkan langsung petambak rakyat setempat. Modelnya adalah seperti yang dahulu pernah dilaksanakan di saat kejayaan Dipasena,” papar Bungaran.

Disayangkan, pertambakan Dipesena sekarang hanya menjadi pengelola pertambakan tradisional. Padahal, lanjutnya, pada masa kejayaannya (1985—1998) Dipasena pernah menghasilkan 2.000 ton udang per bulan dan mengekspor 20.000 ton per tahun. Era 1995—1996 ekspornya pernah mencapai rekor 25.000 ton, menjadikannya sebagai eksportir terbesar di dunia. Menghasilkan devisa US$300 juta per tahun.

Bungaran, juga Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu, mengingatkan untuk membangkitkan kembali kejayaan pertambakan udang Dipasena, para pihak harus melihat ide dasar yang diemban keluarga Sjamsul Nursalim yang terpanggil untuk menggali sumber daya alam kampung halamannya.

Hal itu dapat dilakukan dengan melibatkan langsung rakyat petambak dan telah terbukti berhasil mengembangkan agribisnis udang terbesar di dunia. “Dia bukan semata-mata mengembangkan bisnis, melainkan care to the people, seraya care to the environment,” kata Bungaran Saragih.

Pertambakan udang Dipasena berada dalam kawasan terpadu seluas 98.000 Ha di Lampung yang terapit antara sungai Mesuji dan sungai Tulang Bawang dengan pantai berhutan bakau sepanjang 75 Km. Kawasan pertambakan Bumi Dipasena sendiri meliputi luas 24.000 Ha di kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang.

Di dalamnya terdapat jaringan kanal sepanjang 1.300 Km, pembangkit listrik 200 MW, fasilitas pendukung seperti pabrik pakan, 180 kolam penelitian (R & D), hatchery benur, serta kota mandiri berpenduduk 100.000 jiwa yakni keluarga dari 12.000 lebih petambak dan 14.780 karyawan. Kawasan bisnis itu juga dilengkapi sekolah sampai dengan jenjang akademi, 14 poliklinik, dan rumah-rumah ibadah.

Dengan demikian, menurut Bungaran Saragih, bila nantinya Dipasena dibangkitkan kembali, siapa pun mengelolanya tidak usah mencari metode atau pendekatan lain. Tinggal mengikuti saja model yang benar dan dijalankan oleh keluarga Sjamsul Nursalim.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo saat mengunjungi tambak udang di hutan bakau Muara Gembong, Bekasi 1 November 2017, menyatakan udang menjadi komoditas ekspor sangat besar. Menurut Kepala Negara, Indonesia sekarang berada di nomor tiga. 0 BAIM