Sabtu, 14 April 2018

Kepiawaian & Ketulusan Jenderal Sigit Memimpin Polda Banten

Ist.
Beritabatavia.com - Seluruh tingkatan kepemimpinan Polri di era now. Harus  mampu mengikutsertakan seluruh jajarannya membina hubungan harmonis dan sejajar  dengan masyarakat. Agar tercipta kemitraan yang seimbang dalam menyelesaikan segala permasalahan di tengah kehidupakan masyarakat.

Pemimpin Polri tidak cukup hanya memiliki kompentensi dan integritas. Tetapi kepiawaian yang mengandung nilai-nilai seni yang seluruhnya dilakukan dengan ketulusan.

Biasanya, langkah pertama perwira tinggi Polri yang baru menerima tugas dan tanggungjawab sebagai Kapolda adalah memahami situasi dan kondisi serta potensi gangguan kamtibmas di wilayahnya. Kemudian memberikan pengarahan dan petunjuk serta motivasi kepada seluruh jajarannya. Disertai penekanan  agar seluruh anggotanya melaksanakan tugas secara professional dan proforsional dalam upaya mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Tahapan proses serupa juga dilaksanakan oleh Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol Drs, Sigit Sulistyo Prabowo, Msi,  saat  memulai tugas sebagai Kapolda Banten pada  Oktober 2016 silam. Meskipun, mantan ajudan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mengaku ada perasaan dan kondisi physikologis yang berbeda antara dirinya dengan para kapolda yang lain.

Kecamuk yang melanda perasaan dan fikiran lulusan AKPOL 1991 ini bermula setelah surat telegram Kapolri No ST/2343/X/2016 tertanggal 5 Oktober 2016 tentang pengangkatannya sebagai Kapolda Banten, diumumkan.

Beberapa saat setelah itu, muncul gejolak penolakan dirinya sebagai Kapolda Banten. Sejumlah ulama dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten dengan alasan perbedaan Agama membuat dan menanda tangani surat penolakan dalam sebuah petisi. Dasar penolakan, karena Banten adalah wilayah kesultanan dan banyak kerajaan Islam berdiri di Banten dan mayoritas  penduduknya beragama Islam. Sehingga tidak menerima pemimpin non muslim.

Bukan hanya itu, Sigit Sulistyo Prabowo yang non muslim juga  dicurigai akan membawa suasana semakin memanas khususnya menjelang pelaksanaan Pilkada Banten yang akan digelar pada Februari 2017.

Apalagi, beberapa saat sebelumnya, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) mengumumkan hasil penelitian Indek Kerawanan Pemilu (IKP) jelang Pilkada 2017. Disebutkan Provinsi Banten berada pada urutan ketiga paling rawan. Potensi kerawanan berada dalam dimensi penyelenggaranya, dimensi kontestasinya dan dimensi partisipasi pemilihnya.

Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo mengaku sempat pesimis. Tak terbayangkan, bagaimana bisa menjalankan tugas sebagai Kapolda ditengah penolakan kehadiran dirinya. Tetapi Brigjen Sigit tak membiarkan kesulitan mengerogoti fikirannya, justru menjadikannya sebagai tantangan.  Sebagai orang beriman, yakin akan mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab untuk  mengendalikan kondisi tetap kondusif.

“Penuh kayakinan dan niat yang tulus saya melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai Kapolda Banten,” kata Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo, diruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, kemampuan mengendalikan fikiran untuk tujuan yang baik dan dilakukan dengan ketulusan serta penuh keyakinan akan memberikan solusi. Brigjen Sigit mengakui, untuk mengendalikan situasi sulit seperti itu memang dibutuhkan kepiawaian beraroma seni sehingga menyentuh dan mengakomodir budaya-budaya masyarakat.

Pria kelahiran 5 Mei 1969 itu menjelaskan, ada dua kelompok yang memiliki pengaruh besar di Banten. Beberapa saat setelah Sigit dilantik sebagai Kapolda Banten, tanpa melalui jalur protokoler, Sigit langsung menemui tokoh masyarakat Banten di rumahnya. Hasilnya, Sigit mendapat sambutan hangat dan dukungan.

Langkah awal itu menjadi modal penyemangat untuk membangun komunikasi ke seluruh elemen masyarakat Banten. Brigjen Sigit proaktif dan semakin intens menemui tokoh-tokoh Agama dan masyarakat. Dengan segala kerendahan hati, Sigit memohon agar alim ulama dan tokoh masyarakat bersama dengan Polri menjaga kondusivitas keamanan, khusunya menjelang Pilkada Banten.

Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo mengucap puji dan syukur ke kehadirat Tuhan Yang Maha Esa serta ucapan terima kasih yang tulus dari hati yang paling dalam untuk seluruh masyarakat Banten, pesta demokrasi Pilkada Banten pada 15 Februari 2017 lalu berlangsung kondusif.

“Dengan penuh keyakinan, saya mengikuti feeling serta selalu berharap kepada Nya. Semua itu saya lakukan dengan ketulusan,” kata Brigjen Sigit, mengenang kondisi sulit saat itu.

Badai pasti berlalu, habis gelap terbitlah terang. Begitulah proses kepemimpinan Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo sebagai Kapolda Banten. Keinginannya, Polri harus memberikan yang terbaik kepada masyarakat terus dilakukan. Kini, dua kelompok masyarakat paling berpengaruh di Banten telah berada dalam satu wadah yang terdiri dari beragam warna dan gaya. Kemampuan komunikasi Brigjen Sigit dan kepiawaiannya  mengelola potensi membuat Banten tetap kondusif. Beberapa event nasional seperti HUT TNI yang digelar di Banten berlangsung sesuai rencana dan kondisi tetap terkendali.

Kehadiran Polri yang sangat cepat, ketika masyarakat mengalami kesulitan telah membangun hubungan sangat baik dengan masyarakat. Bahkan antara Sigit dengan masyarakat Badui dilanda kerinduan untuk selalu bersama.

“Saya menjadi warga istimewa bagi masyarakat Badui. Sebaliknya mereka juga jadi warga khusus bagi Polda Banten,” kata Brigjen Sigit dengan penuh haru.

Tidak hanya itu, kehadiran Brigjen Sigit menjadi kebanggaan masyarakat Banten. Ditandai dengan kehadiran Kapolda Banten Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo untuk mengisi kuliah umum bertajuk Merawat Indonesia dan Kebhinekaan di Universitas Mathala Ul Anwar, Banten, beberapa waktu lalu.
 
Dalam pemaparannya, Sigit Prabowo menyampaikan pentingnya menjaga nilai-nilai Kebhinekaan yang ada di Indonesia dengan berbagai macam suku, budaya dan bahasanya.

“Indonesia ditakdirkan menjadi Negara yang beraneka ragam, mulai dari suku, budaya, bahasa bahkan agamanya. Ini adalah kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Maka dalam kesempatan ini saya mengajak Mathla ul Anwar untuk sama-sama menjaga dan merawat kekayaan bangsa dalam bentuk Kebhinekaan tersebut,” kata Sigit Prabowo ketika memaparkan materinya di Aula FKIP UNMA Banten.

Sebelumnya Keluarga Mahasiswa Banten (KMB) Bogor bersilaturahmi ke Polda Banten. Dewan Pembina KMB, Jaro Ade mengatakan,  lebih dari 4000 warga Banten menuntut ilmu dari berbagai perguruan tinggi di  Bogor menyampaikan dukungan kepada Kapolda Banten Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo. KMB menilai sosok Kapolda Sigit adalah tepat untuk memimpin Polda Banten. KMB juga mengapresiasi program Kapolda Sigit yang memberangkatkan umroh para marbot (penjaga masjid) .

Sementara aktivis 98 yang tergabung dalam jaringan reformasi Indonesia (Jari 98) mengakui, sejak kehadiran Sigit dapat dirasakan masyarakat adanya polisi yang mengayomi dan membangkitkan budaya yang ada di tanah Jawara, Banten.
Ketua Presidium Jari 98, Willy Prakarsa mengatakan, warga Banten bersyukur kehadiran Sigit Sulistyo Prabowo, karena mampu berkomunikasi dengan ulama dan tokoh masyarakat.

Memasuki tahun kedua masa kepemimpinan Brigjen Sigit Sulistyo Prabowo sebagai Kapolda Banten, telah mengukir  berbagai prestasi dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat.

Mabes Polri juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Polda Banten yang telah berhasil memberikan pelayanan dan pengamanan sehingga Pilkada Banten berlangsung aman dan lancar. Tercatat, Polda Banten berada pada urutan nomor satu untuk Sentra Gakumdu seluruh Indonesia. Di era Now dan selanjutnya, Polri harus mempersiapkan perwira-perwira Promoter yang mampu mengelola feeling dan memiliki ketulusan serta kepiawaian untuk mendukung tugas dan tanggungjawabnya. O Edison Siahaan

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 23 Oktober 2016
Sabtu, 22 Oktober 2016
Jumat, 30 September 2016
Sabtu, 24 September 2016
Sabtu, 17 September 2016
Minggu, 28 Agustus 2016