Rabu, 18 April 2018

Dibantah, Anies Sebut 24 Orang Warga Kampung Akuarium Meninggal

Ist.
Beritabatavia.com - Warga Kampung Akuarium membantah pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebut 24 warga meninggal dunia karena tinggal di bekas penggusuran. Bantahan itu disampaikan salah satu tokoh masyarakat Kampung Akuarium, Upi Yunita saat disambangi di wilayah perkampungan Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (17/4).

Upi mengakui ada 24 warga yang meninggal, tapi bukan karena faktor tinggal di atas tanah gusuran. "Memang benar ada 24 yang meninggal dunia, tapi jangan disebabkan karena tergusur terus meninggal. Orang yang meninggal itu memang sudah habis umurnya bukan karena tinggal di wilayah bekas penggusuran," ujarnya serius.

Upi mengatakan, dari 24 yang meninggal, hanya satu orang yang meninggal karena serangan jantung usai menerima surat peringatan (SP) penggusuran kala itu. Selebihnya, kata Upi, memang karena faktor usia dan penyakit yang dideritanya. "Itu yang kena serangan jantung pada saat SP satu saja dia terkena serangan jantung, karena penggusuran," lanjut Upi.

Ia juga mengungkapkan ada beberapa warga Kampung Akuarium yang meninggal saat sudah dipindah ke Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Marunda, Jakarta Utara. Satu warga balita berumur empat tahun meninggal karena terjatuh dari lantai empat rusun tempat tinggalnya. Kemudian beberapa warga lainnya yang tinggal di rusun meninggal karena sakit dan usia yang sudah tua.

"Ada yang meninggal di Rusun dan bahkan ada yang jatuh dari lantai empat rusun. Kemudian karena dia sudah tua dan ada penyakit. Jadi bukan orang sehat terus tiba-tiba meninggal, enggak," tutur Upi.

"Toh saya tinggal di bekas penggusuran selama dua tahun sehat-sehat saja, kalau begitu (merujuk pernyataan Anies) kami juga harusnya ikut meninggal dong," lanjut Upi.

Pernyataan Upi tersebut menyusul ucapan Anies Baswedan yang menyebut 24 warga Kampung Akurium meninggal tanpa ada perlindungan yang baik setelah digusur pada April 2016 silam. Anies menyebut warga dibiarkan saja hidup di antara puing-puing bekas penggusuran.

Pernyataan bertolak belakang dengan Upi disampaikan Koordinator Wilayah Kampung Akuarium, Dharma Diani (41). Dia membenarkan pernyataan Anies. Diani menyebut ke-24 warga yang meninggal itu rata-rata karena sakit karena tinggal di bekas penggusuran.

Ia menyebut kualitas hidup yang rendah di tempat bekas penggusuran menjadi salah satu faktor yang menyebabkan warganya meninggal. Selain itu tingkat stress yang tinggi akibat penggusuran juga menjadi penyebab kematian warganya tersebut.

Menurutnya 24 orang meninggal dunia dalam kurun dua tahun di satu kampung bukanlah hal yang wajar. Bahkan, ucap Diani, ada dua warga yang meninggal dalam kurun waktu berdekatan. "Kami minta ke Pemerintah Provinsi untuk membangun Shelter, dan Alhamdulillah semenjak dibangun kualitas hidup kami meningkat dan sudah tidak ada lagi kasus kematian semenjak itu," ucap Diani.

Selama hampir dua tahun sejak Kampung Akuarium digusur, sebagian warga korban gusuran tinggal di tenda pengungsian dan rumah-rumah bedeng yang dibuat secara swadaya. Menurut Diani kondisi tempat tersebut kurang layak untuk ditinggali.

Warga Kampung Akuarium tinggal di antara puing-puing bekas penggusuran. Namun, sejak Pemprov DKI Jakarta menyelesaikan pembangunan shelter sementara, kata Diani, sebagian besar warga kini sudah tidak lagi tinggal di tenda pengungsian.

Pemprov DKI Jakarta membangun 90 shelter untuk tempat tinggal warga sampai penataan Kampung Akuarium selesai. Shelter tersebut sudah terisi penuh. Meski di sisi lain, kenyataannya tak semua warga bisa menempati shelter dan terpaksa tetap tinggal di tenda pengungsian. 0 CNN




Berita Lainnya
Rabu, 28 November 2018
Senin, 26 November 2018
Minggu, 25 November 2018
Sabtu, 24 November 2018
Kamis, 22 November 2018
Rabu, 21 November 2018
Senin, 19 November 2018
Kamis, 15 November 2018
Rabu, 14 November 2018
Selasa, 13 November 2018
Senin, 12 November 2018
Jumat, 09 November 2018