Sabtu, 21 April 2018

Dedeh Erawati, Kartini di Ranah Atletik

Ist.
Beritabatavia.com - Sosok pejuang wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini, bisa dibilang banyak menjadi inspirasi setiap wanita di Indonesia untuk selalu menjadi dirinya sendiri, tanpa harus melupakan kodratnya sebagai seorang ibu atau wanita.

Seperti kita tahu, di negeri ini banyak memiliki wanita-wanita hebat. Sebut saja Cut Nyak Dien, Martina Tiahahu, Megawati Soekarno Putri, Susi Pujiastuti, dan Sri Mulyani, dan banyak lagi lainnya, yang menjadi tokoh sentral di masanya.

Pun begitu di cabang olah raga. Tanpa mengurangi rasa hormat dengan yang lainnya, Yayuk Basuki di tenis lapangan dan Susy Susanti di bulu tangkis adalah contoh mantan atlet wanita dengan segudang prestasi yang mengharumkan nama Indonesia.

Menjelang Hari Kartini yang selalu diperingati setiap 21 April, medcom.id tertarik mengangkat profil seorang atlet wanita. Dengan harapan tulisan ringkas ini bisa memotivasi atlet-atlet muda Indonesia, terutama atlet wanita. Apalagi ajang Asian Games 2018, di mana Indonesia tuan rumahnya sudah menunggu di depan mata.
 
Sosok tersebut adalah Dedeh Erawati, atlet lari 100 meter gawang putri milik Indonesia. Hingga usianya menjelang 40 tahun, Dedeh masih aktif berlatih keras. Wanita kelahiran Sumedang, 25 Mei 1979 ini bisa dibilang sarat pengalaman bertanding membela nama Indonesia.

Terbaru dua medali emas disumbang Dedeh saat tampil di Ontario Masters Athletics, Kanada, 10-11 Maret. Sepekan kemudian, dua medali emas diraihnya di ajang USA Track and Field (USATF) Masters, 17-18 Maret.

Balik ke belakang, ibu satu anak ini mengenal atletik sejak 1992 silam. Di ajang SEA Games, Dedeh selalu tampil sejak 1997 hingga 2015, alias 10 kali tampil di event olahraga se-Asia Tenggara itu. Dedeh juga tampil di level Asia dan pernah juga membela Merah Putih di Olimpiade 2008 Beijing, Tiongkok.

Menariknya, Dedeh sempat memutuskan pensiun sebagai atlet tahun 2003 silam. Prestasinya di level SEA Games (1997, 1999, 2001, dan 2003) yang kerap hanya menjadi penggembira di babak final adalah salah satu penyebabnya.

Sampai pada suatu ketika, Dedeh bertemu Fahmi Fachrezzy, juara nasional aerobik yang kerap mengisi acara kebugaran di salah satu stasiun televisi swasta nasional bersama Vicky Burki. Kata yang terlontar saat itu dari Fahmi, "Kamu masih bisa berprestasi lagi, karena belum dipoles secara maksimal," kenang Dedeh dengan ucapan Fahmi.

Lantas, Dedeh kembali menekuni dunia yang bakal membesarkannya itu kemudian. Terinspirasi atas kesuksesan Yayuk Basuki (atlet tenis) dan Susy Susanti (bulu tangkis), Dedeh bertekad menyamai prestasi para seniornya tersebut.

Singkat cerita, kesuksesan lantas menghampirinya. Kerja keras yang dilakukannya mulai menunjukkan hasil. Di SEA Games 2005 Manila, Filipina, Dedeh sukses menyumbang medali perak untuk Indonesia di 100 meter gawang putri.

Dua tahun berikutnya, tahun 2007 di Bangkok, Thailand, raihan Dedeh mulai meningkat. Dedeh merasa bangga sekaligus terharu saat Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Itu menjadi emas pertama Dedeh di level Asia Tenggara.

Tahun 2009 di Vientiane, Laos, Dedeh sukses mempertahankan medali emasnya di level Asia Tenggara. Di tahun yang sama juga, Dedeh ikut kejuaraan Asia di Guangzhou, Tiongkok. Dedeh menyumbang medali perunggu di tengah atlet-atlet hebat Asia.

Meski di dua SEA Games berikutnya (2011 dan 2015) Dedeh hanya menyumbang perak, tekad Dedeh untuk menjadi yang terbaik patut diacungi jempol. Dedeh merasa, menjadi olahragawan, terutama di cabang olahraga yang mengandalkan fisik dan otot bukan dominan milik pria. Dedeh sudah memberikan contohnya, yang bisa menjadi inspirasi atlet-atlet muda Indonesia di masa depan nanti.
 
Tak berhenti sampai di situ, Dedeh yang sudah tidak lagi menghuni Pelatnas untuk SEA Games 2017 dan Asian Games 2018, masih terus mengepakkan sayap Garuda di manca negara. Dedeh aktif mengikuti Masters Athletic Internastional, meski sudah tidak lagi memperkuat Indonesia di ajang multievent (SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 nanti).

Dedeh tak putus asa meski keinginannya untuk membela Indonesia di ajang SEA Games maupun Asian Games pupus sudah. Induk organisasi tempat Dedeh bernaung, PB PASI, memang membutuhkan regenerasi. Dedeh menerimanya dengan lapang dada.

Karena masih memiliki tekad baja untuk tetap membela nama Indonesia, terutama di ajang Masters Athletic International. Di ajang yang mempertemukan atlet-atlet seluruh dunia di cabang atletik itu, Dedeh justru berkibar dengan raihan prestasi membanggakan.

Dedeh dijadwalkan mengikuti kejuaraan Taiwan Open dan Masters Athletics di Spanyol pada September nanti. Wanita 38 tahun itu mengaku akan berusaha mempertahankan gelar Masters Athletics yang ia dapatkan di Perth Australia tahun lalu. Dedeh tekun berlatih untuk meraih prestasi lagi. Sepekan empat kali dan empat jam dalam sehari dilalapnya dengan senang hati.

PROFIL
Nama: Dedeh Erawati
Kebangsaan: Indonesia
Tanggal lahir: 25 Mei 1979 (umur 38)
Tempat lahir: Sumedang, Jawa Barat, Indonesia
Tempat tinggal: Jakarta
Tinggi: 167 m (547 ft 11 in)
Berat: 58 kg (128 lb)

Olahraga atletik
Kompetisi 100 meter gawang
Dilatih oleh Fahmy Fachrezzy

Pencapaian dan gelar
Final Olimpiade Beijing 2008
waktu terbaik 13.18"

Kejuaraan Atletik Asia 2009 Guangzhou (perunggu)
SEA Games 2007 Bangkok, Thailand, (emas)
SEA Games 2009 Vientiane, Laos (emas)
SEA Games 2005 Manila, Filipina (perak)
SEA Games 2011 Palembang, Indonesia (perak)
SEA Games 2015 Singapura, Singapura (perak)