Kamis, 26 April 2018

Musim Berganti Nasionalisme

Ist.
Beritabatavia.com - Nasionalisme adalah lahirnya paham,sikap dan tindakan yang sama lalu sepakat menggunakannya sebagai identitas bersama untuk mewujudkan  tujuan atau cita-cita serta kepentingan bersama. Nasionalisme adalah embrio sejarah perjuangan merebut kemerdekaan hingga lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
Musim berganti, merpati tak pernah ingkar janji. Seharusnya nasionalisme juga tak pernah kendur, luntur hanya karena butuh infrastruktur atau karena kemajuan teknologi.  Semangat nasionalisme harus terus berkobar untuk menuntun bangsa Indonesia menjaga dan memelihara kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka. Memudarnya nasionalisme akan membuka ruang ancaman terhadap kedaulatan bangsa dan Negara.

Bangsa yang tetap menjaga dan memelihara semangat nasionalisme akan taat dan mematuhi semua ketentuan/aturan atau hukum positif. Tanpa pamrih berjuang untuk kemajuan bangsa dan Negara. Mengutamakan produk dalam negeri dan melestarikan budaya-budaya bangsa Indonesia. Menjadikan seluruh kekayaan alam Indonesia hanya untuk kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Sayangnya, musim berganti, merpati mulai ingkar janji. Seperti   sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan hingga reformasi.  Diawal kemerdekaan atau era    pemerintahan Presiden Soekarno, semangat nasionalisme terus berkobar untuk membangun kepercayaan diri rakyat Indonesia sebagai bangsa yang telah merdeka.

Pada priode pemerintahan Presiden Soeharto, nasionalisme menjadi landasan penyusunan dan pelaksanaan pembangunan ideologi,politik,ekonomi,sosial dan budaya, pertahanan dan keamanan (Ipolesosbudhankam). Semangat nasionalisme tertuang dalam garis besar haluan Negara (GBHN) sebagai dasar pelaksanaan pembangunan yang sesuai kebutuhan prioritas bangsa Indonesia.

Memasuki era reformasi, eforia bangsa Indonesia seperti dehidrasi sehingga menggerus konsistensi dan mengganggu konsentrasi memelihara nasionalisme. Sikap eforia itu ditandai dengan melakukan empat kali amandemen UUD 1945.Sejak itu, langkah Bangsa Indonesia seperti perahu terhuyung-huyung di hempas ombak. Karena kehilangan keseimbangan memelihara paham dan janji serta identitas yang sama untuk mencapai tujuan bersama.
 
Pergatian rezim pemerintahan pun tak lagi mampu merestorasi nasionalisme sebagai landasan menuju arah perjalanan bangsa Indonesia. Kemajuan teknologi, derasnya arus budaya asing, ambisi pribadi dan kelompok, memicu krisis nasionalisme.
Akibatnya berbagai ancaman terhadap sendi-sendi kehidupan bangsa dan Negara semakin dekat bahkan sudah tiba di depan pintu.
Memudarnya nasionalisme membuat pembangunan tak lagi berdasar pada kebutuhan rakyat Indonesia. Bahkan, konsep dasar yang menjadi landasan untuk melaksanakan pembangunan hanya ditentukan oleh sekelompok orang yang sedang eforia. Tak lagi mencatat, kesulitan ekonomi yang dirasakan sebagian besar rakyat Indonesia.
 
Pertumbuhan ekonomi hanya berorientasi pada  grafik dan angka yang kurang dipahami sebagian besar rakyat Indonesia. Krisis nasionalisme membuat Bangsa Indonesia kehilangan kedaulatan atau hak eksklusif untuk menguasai kekayaan sumber daya alam yang ada di wilayah Indonesia. Memudarnya nasionalisme, menjadikan bangsa Indonesia senang mengucapkan kata, import dan pinjam. Hati dan pikiran serta akal yang minus nasionalisme menggiring bangsa Indonesia selalu berharap penuh pada kemurahan hati para investor asing. Kehilangan nasionalisme adalah ancaman terhadap Ipolesosbudhankam serta indikasi terjadinya proses penyerahan kedaulatan kepada bangsa lain. O Edison Siahaan


Berita Terpopuler
Kamis, 18 Oktober 2018
Selasa, 23 Oktober 2018
Berita Lainnya
Rabu, 29 Agustus 2018
Senin, 06 Agustus 2018
Jumat, 20 Juli 2018
Senin, 16 Juli 2018
Kamis, 12 Juli 2018
Selasa, 10 Juli 2018
Minggu, 08 Juli 2018
Kamis, 05 Juli 2018
Minggu, 01 Juli 2018
Minggu, 10 Juni 2018
Sabtu, 09 Juni 2018
Rabu, 06 Juni 2018