Rabu, 02 Mei 2018

KSSK: Perekonomian Nasional Hadapi Banyak Tekanan

Ist.
Beritabatavia.com - Perekonomian nasional menghadapi banyak tekanan belakangan ini. Kurs rupiah melemah hingga ke titik terendah Rp 13.930 per dollar Amerika Serikat (AS) pada 26 April 2018. Pasar modal juga rontok ke level 5.900-an. Namun, Komite Sabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan Indonesia tidak krisis, ekonomi masih akan tumbuh kuat pada tahun ini.

Ketua KSSK juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sistem keuangan Indonesia masih stabil walaupun banyak tekanan. Hal itu terindikasi dari investasi langsung yang masih tumbuh 11,8%. Daya beli masyarakat juga naik, terlihat dari inflasi inti sebesar 0,76% per kuartal I-2018.

Kegiatan industri juga meningkat seiring pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku penolong. Lalu, sektor keuangan juga semakin gencar menyalurkan kredit. Pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2018 tercatat 8,2% year on year (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya hanya meningkat 7,4%.

Kesehatan industri perbankan, menurut KSSK, juga sangat fit. Rasio kecukupan modal perbankan tercatat 23,1% per Februari 2018, jauh dari batas minimal 8%. Sedangkan rasio likuiditas juga sehat di level 23%. Rasio kredit bermasalah terjaga rendah sebesar 2,9% gros atau 1,3% net.

"Berdasarkan penilaian terhadap perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar Surat Berharga Negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan nonbank dan penjaminan simpanan, sistem keuangan masih stabil dan akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat tahun ini," terang Sri Mulyani seperti dilansir laman Kontan.co.id, Rabu (02/05/2018).

Pelemahan rupiah belakangan menurutnya juga terjadi secara bersama-sama dengan mata uang lain. Hal itu merupakan imbas penguatan dolar Amerika Serikat terhadap hampir semua mata uang dunia. Penguatan dolar AS didorong oleh berlanjutnya kenaikan yield US Treasury (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03% (tertinggi sejak tahun 2013) dan potensi kenaikan Fed Funds Rate lebih dari tiga kali pada tahun ini.

Namun, tekanan terhadap kurs rupiah sudah mulai terkendali. Volatilitas rupiah mulai berkurang bersamaan kebijakan Bank Indonesia melakukan intervensi pasar.

Fundamental ekonomi kuartal I-2018 dinilai tetap kuat, tercermin dari tingkat inflasi yang terjaga sesuai target 3,51%. Kondisi APBN yang terus terjaga dengan defisit anggaran dan defisit keseimbangan primer APBN yang jauh lebih kecil dibandingkan triwulan I-2017.

"Momentum pertumbuhan ekonomi terus berlanjut dengan konsumsi, investasi dan ekspor yang masih terus terjaga. Pertumbuhan ekonomi diharapkan tetap terjaga sesuai target tahun 2018 sebesar 5,4%," jelas Sri Mulyani.

Momentum pertumbuhan ekonomi RI akan berjalan seiring kenaikan perekonomian global. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 3,9%, naik dari tahun 2017 yang 3,7%. Dengan pertumbuhan ekonomi global yang lebih baik, ekspor ke sejumlah negara seperti India dan Amerika Serikat juga akan meningkat.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai stabilitas sistem keuangan masih terkendali meskipun kurs rupiah tertekan dan banyak dana asing keluar dari pasar modal dan obligasi negara.

Namun dengan potensi tekanan eksternal yang kuat ke depan, pemerintah perlu menyiapkan serta memastikan mekanisme crisis management protocol berjalan ketika terdapat indikasi krisis. Koordinasi crisis management protocol perlu ditingkatkan sehingga otoritas fiskal, otoritas moneter, dan otoritas pasar keuangan dapat bertindak cepat dan tegas dalam mencegah atau meminimalkan dampak krisis. "Koordinasi harus diperkuat," saran Josua. 0 KON