Jumat, 04 Mei 2018

Wapres JK: Bahaya Narkoba Tetap Mengintai

Ist.
Beritabatavia.com -
Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan 2, 647 ton sabu di Monas Jakarta Pusat, Jumat (4/5/2018). Barang haram ini, hasil sitaan BNN dan Polri terdiri 1,027 ton sitaan BNN dan 1,620 ton sitaan Polri. Pemusnahan ini hasil operasi kasus berbeda di perairan Batam dan perairan Pulau Anambas, Kepulauan Riau.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kemungkinan masih banyak peredaran sabu yang belum tertangkap, di tengah masyarakat. “Yang lolos masih lebih banyak daripada yang kita tangkap. Karena itu bahaya narkoba tetap mengintai,” papar Wapres JK yang menghadiri pemusnahan narkoba.

Dilanjutkan, BNN, Polri, Bea Cukai dan TNI AL, patut diberi penghargaan karena menangkap pihak membawa sabu tersebut. “Kita tetap memberi penghargaan kepada BNN, Polisi bahwa berhasil untuk menangkap dan mengurangi bahaya narkoba,” papar dia.

Juga mengimbau agar seluruh elemen masyarakat untuk selalu waspada dan menjaga lingkungan dari beredarnya barang haram tersebut. Sebab, narkoba sangat jelas dampak negatifnya bagi generasi muda. “Karena itu yang ditangkap 2,6 ton yang lolos pasti banyak dan bahaya’ masih mengintai sehingga dibutuhkan kerjasama semua pihak,” tegasnya.

Kepala BNN Heru Winarko menambahkan narkoba ini dapat menyelamatkan generasi muda lebih kurang 13 juta jiwa. Saat ini penyidikan sudah selesai. Pengungkapan sabu di perairan Batam dilakukan pada 7 Februari 2018. Petugas mengamankan empat anak buah kapal (ABK)  berkewarganegaraan Taiwan.

Sementara itu, pengungkapan kasus di Pulau Anambas dilakukan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri dan Ditjen Bea Cukai pada 20 Februati 2018. Empat warga negara Tiongkok ditangkap polisi. “Delapan tersangka diancam hukuman mati,” ujarnya.

Dilanjutkan, tindak pidana ini termasuk extra ordinary crime yang terorganisir dan lintas negara yang menjadi ancaman nyata bagi Indonesia. BNN melakukan pencegahan menggunakan sistem baru yang diterapkan di lembaga pemasyarakatan. Pencegahan juga dengan mengantisipasi barang haram itu masuk ke Indonesia. “Perlu diketahui lebih dari 80 persen narkoba produksi dari luar negeri,”. sambungnya. 0 day