Rabu, 16 Mei 2018

Kak Seto: Anak-anak Bukan Teroris

Ist.
Beritabatavia.com -
Aksi terduga teroris yang sengaja mengajak anak-anaknya ikut dalam serangan teror bom di Surabaya, Jawa Timur membuat banyak orang tercengang. Ada tiga keluarga yang mengajak anaknya ikut terlibat dalam aksi teror itu. Parahnya, beberapa pihak kini menganggap anak-anak itu sebagai pelaku teror.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi meminta polisi dan masyarakat untuk tidak melabeli anak-anak itu sebagai teroris. Anak-anak juga korban dari tindak kejahatan orang tuanya. "Mohon dikoreksi jangan ada kata-kata ketiga teroris termasuk anak-anak. Anak-anak bukan teroris. Anak-anak ini korban," kata Kak Seto dalam keterangannya, Rabu (16/05/2018).

Seto yang juga merupakan seorang psikolog menjelaskan secara psikologis anak-anak memiliki sifat yang mudah diajak atau tersugesti. Seto menilai anak-anak ini termakan bujuk rayu dari orang tuanya. "Mereka ini korban dari bujuk rayu maupun dari pemaksaan atau intimidasi (orang tua)," tutur Kak Seto.

Seto juga menjelaskan anak-anak dilindungi dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014. Berdasarkan UU, anak tak boleh jadi korban tindak kekerasan dan tidak boleh dilibatkan dalam melakukan tindak kekerasan. Seto pun meminta pihak berwajib untuk menambah hukuman bagi orang tua atau siapa saja yang melibatkan anak dalam tindak kekerasan termasuk terorisme.

"Orang-orang dan petugas sering kali enggak curiga karena anak-anak itu masih bersih, polos, gembira tiba-tiba dipasangi bom dan diledakkan. Itukan kejahatan yang harus dikutuk bersama. Jadi ini jelas, kalau sampai (orang tuanya) masih hidup, itu harus ada pemberatan hukum," ucap Seto.

Pada rentetan teror bom di Surabaya, anak-anak ikut dilibatkan oleh orang tua mereka ketika meledakkan bom. Mulai dari serangkaian bom di tiga gereja oleh pasangan suami istri membawa empat anaknya, bom di Rusunawa Wonocolo oleh pasangan suami istri dengan empat anaknya dan bom di Mapolresta Surabaya oleh pasangan suami istri yang membawa tiga anaknya.

Kak Seto juga berencana terbang ke Surabaya untuk mengunjungi anak-anak yang menjadi korban ledakan, termasuk beberapa anak yang selamat dari bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang tuanya. Kedatangannya untuk berkoordinasi dengan psikolog dan tenaga medis yang menangani anak-anak tersebut. "Di sana sudah banyak psikolog yang andal, saya ingin koordinasi dan menunjukkan kepedulian," ujarnya.

Juga menyarankan agar anak-anak tersebut dapat dirawat dan diambil alih oleh negara sehingga terhindar dari tindakan terorisme di masa depan. "Anak-anak ini harus dibersihkan lingkungannya, jangan dibiarkan berada di lingkungan itu (teroris). Jadi, negara harus berani mengambil alih tanggung jawab, dilindungi, dirangkul karena mereka bukan pelaku tapi korban," lontarnya. 0 CIO
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Rabu, 24 Oktober 2018
Selasa, 23 Oktober 2018
Minggu, 21 Oktober 2018
Jumat, 19 Oktober 2018
Senin, 15 Oktober 2018
Sabtu, 13 Oktober 2018
Kamis, 11 Oktober 2018
Selasa, 09 Oktober 2018
Minggu, 07 Oktober 2018
Rabu, 03 Oktober 2018
Minggu, 30 September 2018
Kamis, 27 September 2018