Minggu, 20 Mei 2018

Lalu Lintas Refleksi Budaya Bangsa

Ist.
Beritabatavia.com - Lalu lintas adalah cermin budaya serta potret modrenitas sebuah bangsa. Maka, untuk mengetahui kondisi sebuah bangsa tidak mesti belajar atau berdomisili di Negara tersebut dengan waktu yang lama. Secara kasat mata, dapat dilihat dari kondisi lalu lintas di Negara tersebut.

Bahkan lalu lintas juga merupakan urat nadi kehidupan. Sayangnya, lalu lintas di Indonesia seringkali dianggap sebelah mata dan diartikan sebatas konsep gerak pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Lupa kalau pergerakan perpindahan itu ada perilaku dari orang-orang yang berlalu lintas. Perilaku-perilaku ini menunjukkan adanya pola yang berulang dari waktu ke waktu dan juga menjadi suatu kebiasaan dalam berlalu lintas.

Aturan dan penegakkanya merupakan suatu upaya membangun budaya tertib. Tatkala hukum atau aturan-aturan itu dilanggar bahkan penegak hukumnyapun dilecehkan atau bahkan akan dihabisinya maka ini refleksi tingkat kecerdasanya rendah. Kesadaran dan tanggungjawab dan disiplinya patut dipertanyakan.

Petugas polisi di dalam menegakkan hukum lalu lintas adalah untuk kemanusiaan untuk keamanan, keselamatan, kelancaran dan ketertiban karena lalu lintas merupakan urat nadi
kehidupan. Bagaimana jika ada orang yang melanggar atau mengabaikan petugas kepolisian yang bertugas ? Bukankah itu sama dengan menginjak injak hukum atau melecehkan hukum dan berarti merusak peradaban.

Seringkali kita mendengar ada petugas polisi tatkala sedang menjalankan tugasnya menjadi korban baik diserang, dikeroyok, ditabrak, ditikam, ditembak sampai dengan di bom.

Patut kita pertanyakan ada apa dibalik semua ini ? Apakah design untuk tujuan merusak peradaban? Atau adakah keinginan mempertontonkan ketololannya? Semua ini bisa saja iya bisa juga tidak.

Prof Satjipto Rahardjo mengatakan polisi itu hukum yang hidup untuk menjembatani antara law in the book dengan law in action. Pada saat kita mengetahui simbol hukum dilecehkan maka mirislah hati kita bahwa hukum tidak lagi menjadi kebanggaan malahan hukum menjadi hantu atau beban yang dianggap kontra produktif oleh sekelompok orang yang ingin mengacaukan peradaban negeri ini.

Hukum merupakan produk politik yang merupakan kesepakatan bersama untuk menata dan memanusiakan manusia seutuhnya. Bangsa yang beradab akan bangga bila patuh dan taat terhadap hukumnya. Demikian sebaliknya bangsa yang rendah peradabanya ( kalau malu atau marah dikatakan biadab) akan bangga tatkala mampu melanggar hukum dan melecehkan penegak hukumnya. O Brigjen Dr Chrisnanda Dwi Laksana/ Dirkamsel Korps Lalu Lintas Polri.


Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 08 Juli 2018
Kamis, 05 Juli 2018
Minggu, 01 Juli 2018
Minggu, 10 Juni 2018
Sabtu, 09 Juni 2018
Rabu, 06 Juni 2018
Minggu, 03 Juni 2018
Rabu, 23 Mei 2018