Jumat, 25 Mei 2018

Kerugian Rakyat Akibat Virus Investasi Bodong Capai Rp 100 Triliun

Ist.
Beritabatavia.com -

Investasi ilegal alias bodong masih menghantui masyarakat berduit. Meski sudah banyak jatuh korbannya, namun masyarakat tetap tidak jera, tidak kapok berurusan dengan investasi bodong. Hingga kini investasi bodong seperti virus yang menjangkit masyarakat di Tanah Air. Jika tidak ditangani dengan segera, virus tersebut akan menyebar ganas dan semakin memakan korban.

Virus itu tidak menyebar jika daya tahan tubuh manusia kuat. Sama halnya dengan virus investasi bodong, jika pemahaman masyarakat mengenai literasi keuangan baik maka virus tersebut tidak akan menjangkit.

"Ini (investasi bodong) seperti virus. Mungkin virus itu tidak akan meyebar ganas kalau kita kuat. Itu akan menyebar cepat dan jadi kronis kalau kita tidak cepat," kata Ketua Dewan Komisioner otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso di Jakarta, Jumat (25/5/2018).

Sayangnya, pemahaman masyarakat mengenai literasi keuangan dan investasi belum tinggi. Pada 2016 saja, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru sekitar 29,7% meskipun sudah mengalami peningkatan dari 2013 yang baru sebesar 21,8%.

"Rendahnya literasi, berakibat pada banyaknya kerugian. Kerugian 10 tahun itu sudah lebih dari Rp100 triliun, luar biasa. Bahkan masih banyak yang sebenarnya mengalami kerugian, namun malu melaporkan kalau kena penipuan," imbuh dia.

Bahkan, kata Wimboh, investasi bodong tidak hanya menjangkit orang-orang di daerah pedalaman. Melainkan juga orang berpendidikan tinggi hingga pejabat pun terkena virus tersebut.

"Rupayanya bukan hanya orang yang daerah pedalaman, tapi juga orang berpendidikan tinggi, bahkan pejabat pun cukup kena (penipuan). Kita prihatin dengan data demikian. Jadi ini perlu sosialisasi bukan hanya ke kampung, tapi juga ke pejabat yang ada," tandasnya.

Ditambahkan, Rendahnya tingkat literasi tersebut berkorelasi dengan maraknya korban akibat kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi ilegal. Kerugian dalam 10 tahun terakhir yang diakibatkan imvestasi bodong tersebut mencapai lebih dari Rp 100 triliun.

"Seperti kita ketahui, total kerugian akibat kegiatan investasi ilegal dalam 10 tahun terakhir mencapai lebih dari Rp 100 triliun. Tentunya ini perlu kita cegah. Kita akan perkuat dan prioritaskan aspek pencegahan, sehingga setiap kegiatan investasi ilegal tidak sampai menimbulkan korban dalam jumlah yang signifikan," ujarnya.

Wimboh menelaskan, masyarakat cenderung paham terhadap produk perbankan namun sangat kurang memahami produk-produk pasar modal. "Jika kita melihat lagi lebih dalam mengenai pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan, masyarakat cenderung paham terhadap produk perbankan namun sangat kurang memahami produk-produk pasar modal."

Kondisi ini tentu sangat tidak ideal, tidak hanya dalam konteks perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap investasi ilegal, namun juga mempertimbangkan perlunya sumber-sumber pendanaan yang memadai untuk membiayai proyek strategis yang dicanangkan Pemerintah, yang diharapkan ke depan akan semakin dominan berasal dari sektor pasar modal.

"Salah satu tugas Satgas Waspada Investasi ialah melakukan edukasi. Tentu ini menjadi tugas kita semua untuk mencoba mendidik masyarakat, meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan sector jasa keuangan. Salah satu tugas Satgas Waspada Investasi terkait hal ini ialah melakukan edukasi kepada pelaku industri sektor jasa keuangan dan juga masyarakat." tutup dia. 0 NIZ