Sabtu, 26 Mei 2018

Pelaku Teror Libatkan Anak Dipidana Lebih Berat

Ist.
Beritabatavia.com -
Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU Antiterorisme) yang baru saja disahkan DPR mengatur sejumlah hukuman baru. Salah satunya pemberatan hukuman bagi pelaku aksi teror yang melibatkan anak.

Anggota Pansus RUU Terorisme Dave Laksono mengatakan aturan yang termaktub dalam Pasal 16A itu bukan mendadak ditambahkan, karena peristiwa rentetan teror bom di Surabaya yang juga melibatkan anak beberapa waktu lalu.

"Enggak, pasal itu muncul sejak lama, sejak awal pembahasan di pansus. Karena kita berkaca kepada aksi-aksi terorisme di dunia internasional yang banyak melibatkan anak-anak. Sehingga kita masukkan pasal itu," kata Dave saat dihubungi, Jumat (25/5).

Pansus, kata Dave, berkaca dari sejumlah aksi teror di dunia yang banyak melibatkan anak-anak itu berpotensi terjadi di Indonesia. "Dan nyatanya terjadi juga kan. Itu semangat pansus dari munculnya Pasal 16A itu," kata Politikus Partai Golkar tersebut.

Pada Pasal 16A disebutkan setiap orang yang melakukan tindak pidana terorisme dengan melibatkan anak, ancaman pidananya ditambah sepertiga hukuman. Serangan bom bunuh diri di Surabaya pada 13 dan 14 Mei lalu menguak pola baru.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan para pelaku itu melibatkan anak-anak mereka dalam aksinya. "Pelibatan anak-anak baru pertama di Indonesia. Memprihatinkan," kata Tito dalam jumpa pers di Polda Jawa Timur, Surabaya.

Namun demikian, Tito menyatakan pola serangan bom menggunakan anak-anak dan perempuan kerap dilakukan oleh kelompok Negara Islam Irak dan Syam(ISIS). Menurut dia serangan bom di Surabaya memperlihatkan ada keterkaitan pelaku dengan ISIS. 0 CIO