Selasa, 29 Mei 2018

IPW Desak Kapolri Buktikan Ucapannya

Ist.
Beritabatavia.com - Meski sudah 20 hari kasus kerusuhan di Rutan Brimob berlalu, tapi hingga kini Polri belum juga mengumumkan siapa yang bertanggungjawab dan pelaku yang membantai secara sadis lima anggota Polri yang gugur.

Indonesia Police Watch (IPW) sangat menyayangkan, jika Polri mendiamkan kasus ini dan menganggapnya sebagai kasus biasa, sehingga tidak perlu ada yang bertanggungjawab.

“Kasus kerusuhan yang menewaskan lima polisi itu sepertinya akan dilupakan begitu saja tanpa ada yang bertanggung jawab apalagi dicopot. Ironis jika hal ini terjadi. Padahal jika dicermati, kasus kerusuhan itu terjadi akibat kecerobohan yang luar biasa dari aparatur institusi kepolisian dimana 160 tahanan teroris ditempatkan di rutan yang tidak layak,” kata Ketua Presidium IPW, Neta Pane, dalam siaran pers yang diterima, Selasa (29/5).

Padahal, lanjut Neta, Kapolri Jenderal Tito Karnavian beberapa kali mengatakan, jika ada pejabat kepolisian yang tidak becus menjalan tugasnya, seperti Kapolres atau Kapolda kecolongan di wilayah tugasnya, akan segera dicopot dari jabatannya. Tetapi, sudah 20 hari kasus kerusuhan di Rutan Brimob terjadi, yang kemudian disusul terjadi kasus rentetan bom di sejumlah tempat di Surabaya, pernyataan Kapolri tak terbukti.

IPW menuntut Polri harus segera mencopot para pejabat kepolisian yang bertanggung jawab dalam kasus ini, baik di Rutan Brimob maupun di Surabaya.

“Kecerobohan aparatur di Rutan Brimob maupun kelengahan jajaran kepolisian di Surabaya Jatim harus dipertanggungjawabkan. Jika tidak ada tindakan tegas, para pejabat kepolisian yang bertanggung jawab, tidak akan pernah punya tanggung jawab moral dalan menjalankan tugas tugas yang sudah diamanahkan dan mereka akan berubah menjadi raja raja kecil yang tak tersentuh,” kata Neta Pane.

Menurut Neta, selain mengumumkan siapa yang bertanggungjawab dalam kerusuhan di Rutan Brimob, Polri juga segera mengumumkan siapa saja pelaku pembantaian sadis terhadap lima polisi di Rutan Brimob. Untuk menghargai rasa keadilan keluarga korban, sehingga tidak terkesan kelima polisi itu mati konyol tanpa diketahui siapa yang membunuhnya.

Neta juga mengingatkan, sudah saatnya Polri tidak lagi melakukan kebohongan publik yang sangat memalukan. Dimana dalam kasus kerusuhan di Rutan Brimob, Polri berkali kali mengatakan tidak ada polisi yang tewas. Tapi sore harinya Polri kemudian mengakui bahwa ada lima polisi yang tewas.

Bagaimana pun sudah tidak zamannya lagi Polri menutup-nutupi kenyataan yang ada. Bagaimana pun kebohongan publik, selain sangat memalukan institusi juga melukai rasa keadilan keluarga korban, yang akan merasa institusi tempat mereka mengabdi ternyata tidak menghargai pengorbanan anggota keluarga nya sebagai polisi, meski mereka sudah mati dibantai teroris.

Untuk itu Polri harus segera mengumumkan siapa yang bertanggung jawab dan siapa pelaku pembantaian sadis terhadap lima anggota Polri di rutan Mako Brimob. O son