Minggu, 24 Juni 2018

Politikus PDIP: Drama Politik SBY Ketinggalan Zaman

Ist.
Beritabatavia.com -
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuding ada oknum Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI/Polri tidak netral dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 mengundang reaksi politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Ketua Bidang Kehomatan DPP PDIP, Komaruddin Watubun menilai, pernyataan SBY yang siap diciduk aparat karena pernyataan tersebut sebagai politik melodramatik yang sudah ketinggalan zaman.

"Rakyat sudah tahu politik agar dikasihani model SBY tersebut. Publik sudah tahu Pak SBY lebih dihantui oleh cara berpikirnya sendiri atas dasar apa yang dilakukan selama jadi Presiden," ujar Komaruddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/6/2018).

Dia menilai pernyataan SBY tidak tepat. Dia pun mengungkit masuknya sejumlah mantan anggota KPU yakni Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati  menjadi pengurus Demokrat beberapa tahun silam.

Komaruddin menganggap, semakin tajamnya serangan SBY kepada Pemerintah Jokowi lebih didasari atas kepentingan partai dan keluarga.
"Daripada sibuk menyalahkan Pak Jokowi dan aparat negara, lebih baik Pak SBY buka-bukaan terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada Pilpres 2004 dan 2009," ujarnya.

Sementara Tenaga Ahli Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin pun tak tahan mengomentarinya. Terutama terkait tudingan adanya oknum TNI, Polri, dan Badan Intelijen Negara (BIN) yang bertindak tidak netral di Pilkada 2018. “Siapapun, para politisi dari partai mana dan siapaun Anda, jangan menjadi pengadilan dengan kehendaknya sendiri. Sabar dan tetap teduh,” kata Ngabalin, Minggu (24/6/2018).

Menurut Ngabalin, para tokoh hendaknya tidak membuat suasana menjelang Pilkada menjadi gaduh. Justru mestinya para tokoh bisa menahan diri bukan maunya sendiri memberi penilaian. Netral atau tidak netral rakyat juga bisa melihat dan memberikan penilaian. 0 DAY