Rabu, 04 Juli 2018

Giliran, Wali Kota Filipina Ditembak Mati Sindikat Narkoba

Ist.
Beritabatavia.com - Giliran Wali Kota General Tinio, Ferdinand Bote tewas ditembak oleh pria mengendarai sepeda motor sesaat setelah meninggalkan kompleks pemerintahan di Proinsi Nueva Ecija, Selasa (3/7). Pelaku berhasil kabur. Penembakan ini terjadi sehari setelah seorang wali kota lainnya tewas ditembak diduga dilakukan sindikat narkoba. Pasalnya, kedua walikota ini gencar perang terhadap narkoba.

Sebelumnya, Wali Kota Filipina, Antonio Halili ditembak mati. Saat kejadian, Halili bersama sekitar 300 karyawan dan kepala desa yang baru terpilih sedang menyanyikan lagu kebangsaan dalam sebuah upacara pengibaran bendera di tempat parkir di luar Balai Kota Tanauan, Provinsi Batangas di sekitar 69 kilometer selatan Manila, Senin (2/7).

"Saya tak sadar, itu suara tembakan sampai orang berteriak seseorang menembak, seseorang menembak sambil berlarian kesegala arah dan saya melihat Pak Wali Kota jatuh ke tanah," kata Kepala Desa Rico Alcazar yang berdiri di belakang Halili. "Semua orang terkejut dan tertegun beberapa detik sebelum mereka membawa wali kota ke dalam mobil," tambah Alcazar seperti dilansir 9news.com.au, Selasa (3/7)

Dalam video yang direkam ponsel menunjukan beberapa laki-laki berdiri melindungi Halili yang jatuh dan suara tembakan terus terdengar membuat orang-orang menangis, menjerit, berlari dan berlindung. "Wali kota sudah mati, wali kota ditembak," kata seorang pria sementara pria yang lainnya dengan raut muka yang putus asa berteriak meminta mobil untuk membawa Halili ke rumah sakit.

Pria ketiga menyalahkan rekan-rekannya karena pelanggaran keamanan. "Mereka tidak melihat orang yang berusaha mendekatinya. Mereka hanya mendengar suara tembakan, sehingga asumsinya Wali Kota ditembak oleh penembak jitu," kata Kepala Kepolisian Nasional, Direktur Jenderal Oscar Albayalde, di konferensi pers di Manila.

Albayalde menambahkan penyelidikan sedang dilakukan. Polisi juga mengatakan peluru tersebut menembus dada Halili. Polisi memberikan bukti namun gagal menemukan penembaknya.

Presiden Filipina, Rodrigo Duerte menyatakan kecurigaannya dalam pidatonya bahwa pembunuhan tersebut terkait dengan obat-obatan terlarang. Halili sdikenal karena mengarak penjual narkoba di kota kecil di kota kecil yang terletak di selatan Manila.

Petugas Informasi Tanauan Gerardo Laresma mengatakan Halili telah menerima ancaman pembunuhan "kiri dan kanan" dari orang-orang tak dikenal sebelum serangan itu.

Senator Panfilo Lacson, mantan kepala kepolisian nasional, mendesak polisi untuk memberlakukan kontrol senjata api yang lebih ketat karena pembunuhan tersebut. "Mereka harus segera membuat strategi yang ketat untuk mengontrol senjata api sebelum terjadi pembunuhan dimana-mana," kata Lacson. 0 NEWS