Kamis, 05 Juli 2018

Tik Tok Diblokir, Karena Berbahaya

Ist.
Beritabatavia.com -
Psikolog sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi, setuju bila aplikasi Tik Tok diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Karena, menurutnya, aplikasi yang tengah naik daun tersebut banyak disalahgunakan sehingga bisa berbahaya bagi persatuan bangsa.

"Bila memang dinilai masyarakat belum siap untuk menggunakan aplikasi tersebut, memang sebaiknya dilarang dulu," kata Kak Seto, panggilan populer Seto Mulyadi, di Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Apalagi pengguna Tik Tok, sambung Kak Seto, didominasi pengguna yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia menyayangkan hal itu karena masih banyak kegiatan lain yang bisa menghasilkan prestasi bagi generasi bangsa.

"Pemerintah perlu menyiapkan panduan dan peraturan-peraturan yang jelas dan tegas bila nanti akan diizinkan kembali penggunaannya," tutupnya.

Psikolog klinis Tara de Thouars setuju pemblokiran terhadap Tik Tok karena berisi konten negatif. Sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah aplikasinya, tapi karakter berekspresi pengguna aplikasi tersebut. "Remaja itu kan lagi dalam fase dia cenderung lebih narsis karena sedang dalam masa pencarian identitas diri. Dia butuh diakui, dia merasa kayaknya dunia itu berpusat kepada dia,” paparnya.

Di satu sisi, lanjutnya, Tik Tok bisa menjadi sarana bagi remaja untuk mengekspresikan diri. Namun, keinginan mengekspresikan diri itulah yang mungkin akhirnya muncul berlebihan. Hal ini bisa terjadi pada orang-orang yang memiliki kebutuhan untuk tampil terlalu besar dan tidak terlalu memahami norma yang ada.

Untuk itu, para pengguna aplikasi yang masih di bawah umur sebaiknya tetap diawasi oleh orang tuanya. “Harus ada bimbingan dari orang tuanya, mana yang baik dan mana yang tidak. Sebab, di fase umur remaja itu kan mereka berani, jarang berpikir, terkadang jika menurut mereka selama yang dilakukan itu menyenangkan mereka akan tetap lakukan,” jelas Tara.

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani juga memberikan komentar tentang pemblokiran Tik Tok. Pihaknya sempat mendengar beberapa keluhan terkait aplikasi ini. Misalnya, anak yang tergila-gila dengan Tik Tok hingga akhirnya mengabaikan tugas-tugas sekolah.

“Ada pula yang kabarnya dalam usaha menambah follower jadi memberikan video yang sensasional. Misalnya, terlihat gerakan sensual atau yang membahayakan. Saya mendukung tindakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang memblokir aplikasi ini," katanya.

Nina juga menyinggung rendahnya literasi media sosial masyarakat Indonesia. Hal ini membuat penggunaan media sosial (medsos) menjadi tidak tepat. “Contohnya, malah menggunakan medsos untuk melakukan bullying atau tergila-gila dengan medsos sampai mengabaikan tugas-tugas lain. Adanya pemblokiran ini harusnya menjadi pengingat bahwa kita perlu menggunakan medsos dengan lebih cerdas dan bertanggung jawab,” terangnya. 0 ERZ