Minggu, 08 Juli 2018

Memburu Potret Wajah Jahat

Ist.
Beritabatavia.com - Kejahatan berkembang karena beragam faktor yang menjadi penyebabnya. Kejahatan menjadi potret kondisi nyata masyarakat, bangsa dan Negara. Langkah untuk mengatasi permasalahan hendaknya dilakukan dengan cermat dan efektif. Sehingga tidak seperti pepatah lawas Buruk Muka Cermin Dibelah.

Mengerahkan 1000 personil jajaran Polda Metro Jaya untuk menangkap pelaku jambret dan begal,serta perintah agar anggota polisi tidak segan-segan menembak mati para pelaku kejahatan, adalah rangkaian dari upaya Polri memerangi kejahatan. Karena pemerintah telah melaksanakan upaya serupa sejak 1970 an. Bahkan, pada era 1980 an ratusan preman meregang nyawa ditangan petugas yang terlibat dalam operasi penembak misterius yang popular dengan sebutan Petrus.

Pertanyaannya, apakah operasi memerangi aksi kejahatan dapat membuat angka tindak kriminal surut ? Kemudian, apakah menggelar operasi sebuah prestasi ?

Dalam buku Komisaris Jenderal (Komjen) Nugroho Djajoesman bertajuk Meniti Gelombang Reformasi, disebutkan, penyebab dasar dari problem munculnya kejahatan adalah pendidikan dan ekonomi. Tingkat pendidikan yang rendah ditambah keadaan ekonomi yang relatif miskin membuat orang memiliki sedikit pilihan untuk mencari nafkah. Ketika yang dimiliki lebih banyak adalah keberanian dan otot serta kenekatan, maka kriminal akan menjadi pilihan. Para pelaku kejahatan akan terus bertengger dan menikmati kemapanan kejahatan, apabila hasil kejahatan yang diperoleh relatif memadai.

Kejahatan bukan berdiri sendiri, tetapi faktor sosial menjadi pendorong utama mencuatnya aksi kejahatan. Sehingga mewujudkan rasa aman ditengah masyarakat merupakan upaya yang harus dilaksanakan secara komprehensif. Meskipun peran dan fungsi Polri untuk memeliharan keamanan dan ketertiban, tetapi bukan bekerja di wilayah sosial preventif dalam arti untuk mengatasi akar masalah. Langkah pencegahan adalah inovasi yang dilakukan Polri, tetapi bukan untuk mengatasi penyebab terjadinya kejahatan.

Pembinaan yang dilakukan Polri bukan pula untuk mengonservasi para pelaku kriminal atau yang berpotensi melakukan kejahatan. Polri hanya berupaya melakukan pencegahan agar tidak terjadi kejahatan, sebelum melaksanakan tindakan refresif. Artinya, operasi memerangi kejahatan atau mengejar para pelaku tindak kriminal hanya akan menjadi kegiatan rutin yang tidak menjadi solusi efektif. Sebab memerangi kejahatan juga harus dilakukan dari mulai hulu yang menjadi pemicu terjadi aksi kejahatan.

Maka, memerangi kejahatan dengan menggelar operasi dan mengerahkan ribuan personil untuk mengejar dan menangkap para pelaku kejahatan, bukanlah sebuah prestasi. Apalagi operasi penangkapan massal para pelaku kejahatan potensi menimbulkan citra buruk. Sebab meringkus puluhan bahkan rutusan pelaku kejahatan kemudian diekspos lewat media massa akan menimbulkan kesan Negara kurang aman dari aksi kejahatan.
 
Konsep polisi profesional,modern,terpercaya (Promoter) sangat sederhana. Polisi promoter, apabila Polri menjalankan fungsi kepolisian yaitu memelihara dan menjaga ketertiban dan keamanan ditengah masyarakat dengan sepenuh hati. Idealnya, Polisi itu menjadi polisinya rakyat. Kalau setiap anggota Polri dekat dengan rakyat dan benar-benar memberikan pengayoman dan pelayanan yang baik, pasti polisi dihargai rakyat.

Polisi adalah kumpulan orang-orang baik yang bertugas menjaga kehidupan, agar selalu tentram ,damai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Keberhasilan polisi bukan diukur dari berapa banyak orang yang ditangkap dan dimasukkan dalam penjara atau ditentukan grafik naik turunnya angka kejahatan. Polisi dapat dikatakan berhasil apabila tidak ada warga yang ditangkap, tetapi situasi keamanan dan ketertiban masyarakat kondusif. O Edison Siahaan



Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 08 Juli 2018
Kamis, 05 Juli 2018
Minggu, 01 Juli 2018
Minggu, 10 Juni 2018
Sabtu, 09 Juni 2018
Rabu, 06 Juni 2018
Minggu, 03 Juni 2018
Rabu, 23 Mei 2018