Jumat, 20 Juli 2018

Kemacetan Unresolved

Ist.
Beritabatavia.com - Sebagai bangsa harus memiliki mimpi besar, bukan tiba-tiba berubah menjadi bangsa yang merasa modern hanya karena  infrastruktur jalan yang tidak seberapa. Bangsa harus memiliki gambaran yang besar, jangan dibonsai dengan imajinasi yang hanya sampai konstruksi dan infrastruktur jalan.

Pembangunan mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), jalur kereta bandara, serta pembangunan sejumlah jalan tol di Ibu Kota dan sekitarnya, adalah rangkaian yang berkelanjutan, dan tentu kita berikan apresiasi. Kita berharap agar siapapun yang menjadi pemimpin pemerintahan selanjutnya, pengembangan sistem transportasi massal  harus berkelanjutan hingga terintegrasi ke seluruh pelosok Ibukota Jakarta.

Sebaliknya, kita juga harus jujur bahwa permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan serta kemacetan masih unresolved atau masalah yang belum terselesaikan hingga detik ini. Berbagai program yang sudah dijalankan Pemprov DKI, seperti sistem 3 in 1 dan saat ini kebijakan ganjil genap belum menjadi solusi efektif untuk mewujudkan keamanan, keselamatan,ketertiban,kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas).

Faktanya, lalu lintas dan angkutan jalan di ibukota Jakarta dan sekitarnya masih carut marut. Setiap hari,  seluruh ruas jalan di ibukota nyaris dilanda kemacetan hebat yang merugikan dan menakutkan. Maka sangat disayangkan, ada pihak yang mengatakan kebijakan Pemprov DKI yang memperluas kawasan ganjil genap dan memperpanjang waktunya hingga pukul 21.00 dapat mengurai kemacetan. Bahkan masyarakat sudah tidak sesak lagi akibat diterpa kemacetan.
 
Uji coba kebijakan genap ganjil dengan memperluas wilayah dan memperpanjang waktu hingga pukul 21.00 jelang pelaksanaan Asian Games, tidak berdampak signifikan untuk mengurai kemacetan. Justru menimbulkan kemacetan hebat di ruas jalan yang tidak diberlakukan kebijakan genap ganjil. Kebijakan genap ganjil akan seperti teori pencet balon yang mengelembung ke sisi lain saat bagian lainnya dipencet.

Secara kasat mata terlihat, penyebab kemacetan ada tiga, pertama karena jumlah kendaraan yang jauh lebih besar dari ruas dan panjang jalan yang tersedia. Kedua, kesadaran dan ketaatan masyarakat terhadap aturan dan ketentuan berlalu lintas masih rendah. Ketiga, penegakan hukum yang masih lemah dan tidak konsisten.
 
Sayangnya, belum ada upaya pemerintah untuk mengontrol populasi kendaraan bermotor hingga jumlahnya ideal dengan ruas dan panjang serta daya tampung jalan yang tersedia. Justru pemerintah lebih fokus pada infrastruktur dengan pembangunan ruas tol secara massif. Sehingga pembangunan itu terkesan hanya berdasarkan keinginan pihak tertentu karena sarat dengan aroma bisnis.
 
Pembangunan yang berdasarkan kebutuhan, tentu  pertimbangan utama yang harus dilakukan pemerintah adalah pembatasan jumlah kendaraan, hingga ideal dengan daya tampung ruas dan panjang jalan. Disusul dengan penambahan jumlah armada transportasi angkutan umum yang terintegrasi ke seluruh penjuru ibukota hingga kota penyanggah dan terjangkau secara ekonomi. Kemudian  secara berkala pembangunan untuk penambahan ruas jalan. Selain efektif untuk mengurai kemacetan, juga memberikan nilai kebanggaan sebagai bangsa, karena untuk melintas di jalan tidak harus membayar.
  
Tidak kalah pentingnya adalah pembenahan sistem manajemen transportasi angkutan umum yang terpadu. Dengan memiliki sistem transportasi secara terpadu dan terintegrasi, maka Indonesia tidak lagi gagap saat menjadi tuan rumah penyelenggaraan event-event bersifat internasional.
 
Tetapi jika kebijakan mengatasi kemacetan bersifat sementara atau sekadar tambal-sulam seperti pembatasan gerak kendaraan lewat kebijakan ganjil genap. Maka kita adalah bangsa yang dibonsai dengan imajinasi konstruksi dan infrastrukur jalan. Sehingga, tak heran bila untuk penyelengaraan Asian Games saja, harus mengorbankan kepentingan masyarakat lewat kebijakan genap ganjil. Apalagi piala dunia sepakbola, entahlah. O Edison Siahaan/Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW)



Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Minggu, 08 Juli 2018
Kamis, 05 Juli 2018
Minggu, 01 Juli 2018
Minggu, 10 Juni 2018
Sabtu, 09 Juni 2018
Rabu, 06 Juni 2018
Minggu, 03 Juni 2018
Rabu, 23 Mei 2018