Selasa, 14 Agustus 2018

Perang Dagang Trump Lebih Ganas Ketimbang Krisis Turki

Ist.
Beritabatavia.com -
Perang dagang yang dilemparkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai memberi ancaman lebih besar bagi mata uang emerging market, ketimbang krisis ekonomi yang sedang berlangsung di Turki. Pasar keuangan global telah terdampak jatuhnya nilai tukar lira Turki dalam beberapa hari terakhir.

Namun, menurut Ray Attrill, kepala strategi valuta asing di National Australia Bank Ltd., eskalasi perang dagang akan mengerdilkan contagion effect yang terlihat di emerging market.

“Mata uang emerging market dapat mengalami tekanan lebih lanjut jika pemerintahan Trump memacu perang tarif. Ini akan membawa penguatan dolar AS, perlambatan pertumbuhan China, dan potensi pertumbuhan global yang lebih lambat,” ujar Attrill, dikutip Bloomberg, Selasa (14/8).

“Saya jauh lebih mengkhawatirkan tentang hal-hal lain yang terjadi di dunia, terutama apa yang dilakukan Donald Trump sehubungan dengan tarif,” lanjutnya.

Ia  melihat peluang bagi investor untuk menjual mata uang emerging market dolar AS. Alhasil, pamor dolar AS akan naik saat mata uang lainnya dicampakkan.

Pemerintahan Trump memang sedang melancarkan perang tarif terhadap sejumlah negara, mulai dari China hingga Kanada. Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengeluarkan peringatan bahwa langkah AS berikut aksi balasan yang menyertai dari mitra dagang Amerika, dapat menggerogoti sistem perdagangan global.

Kantor Anggaran Kongres AS (Congressional Budget Office/CBO) pada Senin (13/8) menurunkan proyeksinya atas pertumbuhan ekonomi AS untuk tahun ini, serta memperingatkan meningkatnya ketidakpastian dari rencana-rencana AS untuk memperluas pengenaan tarif.

Ekonomi AS diproyeksi akan berekspansi 3,1% tahun ini, turun dari proyeksi sebesar 3,3% yang dikeluarkan pada April. CBO juga menyatakan bahwa ekspansi ekonomi AS akan berkurang menjadi 2,4% pada 2019, tidak berubah dari proyeksinya pada April, akibat perlambatan pertumbuhan dalam investasi bisnis dan pembelian pemerintah.

“Terlepas dari volatilitas dalam tingkat pertumbuhan PDB pada kuartal pertama dan kedua tahun ini, CBO memperkirakan momentum yang mendasari pertumbuhan itu sebagian besar berlanjut pada paruh kedua tahun ini sebelum melambat secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya,” jelas CBO. 0 NIZ