Senin, 17 September 2018

Jenderal Hoegeng Orang Baik & Orang Penting (bag 1)

Ist.
Beritabatavia.com - Memang baik menjadi orang penting,tapi lebih penting menjadi orang baik (Hoegeng Iman Santoso).

Polisi ibarat sandal atau sepatu semahal apapun tidak akan ditaruh di kepala, tetap saja ditaruh di kaki dan dijadikan alas. Tetapi, saat pesta, bekerja atau bepergian maupun dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, akan terlihat aneh atau mungkin dibilang kurang normal, apabila kita tidak memakai sepatu atau sandal.
Suatu negara yang modern mereka untuk menjaga keteraturan sosialnya dengan menjaga keamanan dan rasa aman disitulah kepolisian akan dibangun dan ditumbuh kembangkan.
Akan aneh jika suatu negara bila tanpa polisi. Polisi merupakan bagian dari masyarakatnya dan sekaligus produk dari masyarakatnya, yang dalam penyelenggaraan tugasnya polisi melalui pemolisian . ada hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara polisi dengan masyarakatnya.

Prof. Satjipto Rahardjo mengatakan, polisi yang baik adalah polisi yang cocok dengan masyarakatnya. Keberadaan polisi memang harus dekat dengan masyarakatnya. Kedekatan ini yang setidaknya harus dibangun secara sistematis, bukan sebatas kemampuan individual yang sifatnya parsial atau temporer melainkan juga dinamis mengikuti perubahan dan perkembangan serta dinamika dari masyarakat yang dilayaninya.

Mengapa demikian, karena polisi untuk mencapai tujuannya dan berhasil menyelenggarakan tugasnya perlu dukungan dan bantuan dari masyarakat serta mendapat legitimasi dari masyarakatnya. Polisi yang tidak dekat dan tidak dipercaya oleh masyarakatnya akan mengalami berbagai kesulitan dalam
penyelenggaraan tugasnya, bahkan bisa menjadi konflik dengan masyarakatnya. Kedekatan dan kepercayaan masyarakat kepada polisi merupakan produk kinerja. Apabila kinerja polisi   dapat dirasakan secara signifikan oleh masyarakat dengan adanya pelayanan prima kepolisian dengan adanya keamanan dan rasa aman, maka masyarakat akan memberikan kepercayaan  kepada Polri.

Sejalan dengan kebijakan Kapolri yaitu Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter). Makna profesional secara umum dapat dijabarkan dalam indikator-indikator sebagai berikut: 1. Para pekerja/ petugasnya memiliki keahlian/ setidaknya memiliki kompetensi, 2. Pekerjaan yang dilakukan jelas dan terukur berdasar pada standardisasi input, proses maupun outputnya, 3. Produk-produk kinerjanya secara signifikan dapat dirasakan hasilnya oleh masyarakat dalam pelayanan publik yang memenuhi standar kecepatan, ketepatan, keakurasian, transparansi, akuntabilitas, informasi maupun kemudahan mengakses, 4. Etika kerja (do and dont serta sanksinya) berbasis pada SOP yang berisi job description, job analysis, standardisasi keberhasilan tugas, sistem penilaian kinerja, sistem reward and punishment.

Makna modern di era digital, tentu dilihat dari sistem-sistem yang dibangun ada back office, aplikasi, network, sehingga dapat memberikan pelayanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu secara proaktif dan problem solving, yang didukung dengan sistem-sistem komunikasi, koordinasi, komando pengendalian dan informasi. Sistem-sistem modern ini dapat ditunjukkan adanya efektifitas, efisiensi dan memenuhi standar-standar pelayanan prima dengan petugas-petugas  yang profesional.

Makna terpercaya adalah dapat diunggulkan dan kinerjanya dirasakan membawa manfaat bagi masyarakat dengan adanya keamanan dan rasa aman. Dan di dalam melakukan pelayanan kepada publik tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan orang tidak percaya antara lain :  1. Memeras, 2. Menerima suap, 3. Menjadi  backing yang ilegal, 4. Arogan, 5. Apatis/ masa bodoh/ tidak empati, 6. Anarkis/ melakukan kekerasan, 7. Berkata kasar, dan 8. Memprovokasi/ menabur kebencian/ menyulut konflik, dan lain sebagainya.

Figur seorang polisi yang ideal sebagai raw model memang harus di bangun. Model itu dapat kita ambil dari sosok Hoegeng Iman Santoso. Ia seorang polisi yang bersahaja, yang patut diteladani dari pemikirannya, sikapnya, gaya kepemimpinanya,
keberaniannya, kecintaan dan kebanggaannya akan pekerjaannya sebagai petugas polisi.

Tidak mudah menjadi polisi dalam negara yang sedang menghadapi krisis. Sulit menjadi polisi yang ideal dalam ketidaknormalan. Idealisme Hoegeng sebagai polisi ditunjukan dengan kedekatannya kepada masyarakat. Ia menjadi penyiar radio elshinta, bermain musik di hawaian seniors, hadir di berbagai acara kemasyarakatan, bahkan saat ada konflik antara Taruna Akpol dengan mahasiswa ITB pun, Hoegeng sendiri turun tangan menyelesaikan.

Betapa ia menyadari apa arti polisi tanpa dukungan masyarakat. Polisi adalah produk masyarakatnya dan para poilisi berasal dari masyarakatnya dan akan kembali kepada masyarakat pula. “Dadi polisi anane mung winates, dadi kawulo tanpo winates. Dadi Polisi kudu ono lelabuhane, ora ono lelabuhane ora ono gunane”. O DR. Chryshnanda DL

Berita Terpopuler