Senin, 17 September 2018

Kapolri: Video Hoaks Kerusuhan di MK itu Kampanye Hitam

Ist.
Beritabatavia.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan, masyarakat semestinya dapat turut andil menjaga kondusivitas jelang Pemilu 2019. Polri memberikan ruang kepada berbagai bentuk kampanye, baik positif atau negatif. Hanya saja, tidak ada toleransi hukum terhadap kampanye hitam atau black campaign.

"Tolong semua orang yang berkontestasi dan pendukungnya menggunakan positive campaign, adu program. Tapi pada batas tertentu, negative campaign ini juga tidak bisa kita cegah. Saya juga minta masyarakat Jangan gunakan kampanye hitam karena jika ada yang lakukan akan kita keja dan diproses hukum," tutur Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (17/9/2018).

Kampanye negatif di sini dimaksudkan pada bentuk upaya sejumlah pihak yang menggunakan fakta-fakta terkait kekurangan suatu calon dalam Pemilu 2019. Hal itu sah saja lantaran maksud dan tujuannya tentu agar publik lebih memahami kelebihan dan kekurangan dari sosok tersebut.

"Yang tidak bisa ditoleransi Polri adalah black campaign. Itu artinya kampanye tentang sesuatu yang tidak terjadi, tapi seolah-olah dibuat, direkayasa, didesain seolah-olah itu terjadi," jelas dia.

Dicontohkan bentuk black campaign dengan kasus penyebaran hoaks kerusuhan di gedung Mahkamah Konstitusi dan Istana Negara. Pelaku menggunakan dokumentasi simulasi pengamanan di Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2014 dan mengubah informasinya menjadi bentuk unjuk rasa rusuh terhadap pemerintah jelang Pemilu 2019.

"Nah, ini namanya black campaign. Itu pidana pelanggaran Undang-Undang ITE, bisa juga pencemaran nama baik, bisa juga fitnah. Black campaign tidak akan kita toleransi dan akan kita lakukan tindakan. Polri melakukan perkuatan di multimedia dan siber," tegasnya.

Ditambahkan pelaku penyebar video hoax demo kisruh di gedung Mahkamah Konstitusi merupakan suatu bentuk black campaign. "Sesuatu yang tidak ada, dibuat seolah-olah ada, di-recycle peristiwa lama seakan-akan terjadi kerusuhan di dalam istana," ungkapnya.

Dikatakannya, video yang beredar tersebut merupakan video simulasi pengamanan massa pada tahun sebelumnya. "Itu pelakunya dipidana UU ITE karena melakukan black campaign dan kami tidak akan pernah mentoleransi bentuk black campaign.

Polda Metro Jaya menangkap menangkap SA alias Suhada Al Syuhada Al Aqse di Jalan Muara II RT005/05, Kelurahan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, yang merupakan pelaku penyebar berita hoax kerusuhan aksi mahasiswa di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta. Sementara Bareskrim Polri menangkap empat orang antara lain SAA, GUN, YUS (Ditangkap di Cianjur) dan NUG (ditangkap di Samarinda).  0 BAIM