Rabu, 19 September 2018

PAM JAYA: Kualitas Air di Jakarta kian Buruk

Ist.
Beritabatavia.com - Perusahaan Daerah Air Minum DKI Jakarta (PAM Jaya) akan lebih memiliki peran yang strategis dalam pengelolaan air di Jakarta seiring dengan adanya putusan Mahkamah Agung untuk menghentikan kebijakan swastanisasi air bersih di Jakarta. Untuk membahas mengenai rencana pengembangan bisnis dan kesiapan PAM Jaya menjalankan putusan tersebut, berikut petikan wawancara Bisnis dengan Direktur Utama PAM Jaya Priyatno Bambang Hernowo.

Apa program prioritas Anda sebagai Direktur Utama PAM Jaya?

Seperti yang saya sampaikan ke Gubernur DKI, program prioritas saya adalah bagaimana caranya meningkatkan cakupan layanan. Sebetulnya angka cakupan layanannya bergerak, tetapi karena populasinya terus meningkat, maka cakupan layanannya seakan-akan jalan di tempat. Untuk mengatasi hal tersebut, menurut saya dibutuhkan langkah percepatan.

Salah satu langkah inisiatifnya adalah bagaimana mendapatkan sumber air? Untuk mencapai 80% cakupan, kira-kira kita butuh tambahan kapasitas hingga 80.000 liter per detik. Langkah inisiatif lainnya yang dilakukan adalah membangun SPAM .

Bagaimana perkembangan cakupan layanan PAM Jaya sejauh ini?

Saat ini total air terdistribusi oleh PAM Jaya di seluruh wilayah di Jakarta mencapai 20.232,5 liter per detik. Adapun, jumlah pelanggan yang dilayani telah mencapai 851.155 pelanggan. Dengan kapasitas sebesar 20.232,5 liter per detik, cakupan layanan PAM Jaya saat ini berkisar 60%.

Apa saja kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan cakupan layanan?

Belum lama ini Gubernur bilang selama 12 tahun ini tidak ada perkembangan air perpipaan, dan cakupan layanannya yang masih di kisaran angka 60%. Oleh sebab itu, PAM Jaya berupaya men-deliver apa yang menjadi harapan pemerintah terhadap layanan dasar kepada warganya, dan mendukung ketahanan air di Jakarta.

Akan tetapi, tantangan yang dihadapi saat ini hanya sekitar 6% kebutuhan air yang didapatkan dari sungai di Jakarta. Kita masih membutuhkan sumber air baru untuk memenuhi kebutuhan air di Jakarta. Apabila dengan kapasitas 20.232 liter per detik, cakupan layanannya berkisar 60%, maka kalau kita mau meningkatkan cakupannya dibutuhkan tambahan air sekitar 8.000 sampai dengan 10.000 liter per detik untuk meningkatkan cakupan layanan kepada warga Jakarta.

Mengapa sebagian besar pasokan air masih bersumber dari luar Jakarta?

Sebagian besar sumber airnya memang berasal dari luar Jakarta, karena kualitas air di Jakarta semakin lama semakin buruk. Indeks pencemarannya semakin besar. Itulah tantangan utama dalam penyediaan air baku menjadi air perpipaan. Akan tetapi, sekarang ini kita sedang mencari cara untuk lebih memanfaatkan sumber-sumber air yang ada di Jakarta.

Bagaimana caranya?

Kita rencananya tahun depan mau mengajukan usulan untuk pembangunan SPAM yang sumber airnya berasal dari Jakarta, yaitu SPAM Pesanggrahan dan SPAM Ciliwung. Dari kedua SPAM itu kita bisa mendapatkan tambahan distribusi air sekitar 950 liter detik.

Bagaimana progres perencanaan pembangunan SPAM tersebut?

Feasibility study sudah dilakukan, dan proses izin SIPA juga sudah dilaksanakan. Kita yakin bisa segera merealisasikan proyek tersebut jika ada investasi yang digelontorkan. Hal itu juga akan membantu kita untuk meningkatkan cakupan layanan air ke depannya. Setelah beroperasi, kedua SPAM itu diperkirakan bisa meraih sekitar 64.000 pelanggan baru.

Selain pembangunan SPAM, adakah rencana pengembangan lainnya?

Tentu saja ada, tetapi jika tidak didukung biaya juga tidak bisa jalan. Kita sudah ajukan proposal PMD pada APBD-P 2018 ke DPRD DKI sebesar Rp1,2 triliun untuk menjalankan sejumlah program kegiatan sebagai bagian dari upaya pemenuhan dan pengembangan kebutuhan air seperti penyediaan air bersih di rusunawa.

Kenapa penyediaan air ke rusunawa penting? karena rusunawa biasanya dibangun di kawasan ujung Jakarta yang kondisi air tanahnya jelek, dan kondisi air perpipaan juga tidak sampai. Meskipun sampai, airnya kecil, sehingga butuh perhatian khusus untuk menyediakan air ke rusunawa. Selain itu, program lainnya yang akan dilaksanakan ialah relokasi jaringan pipa yang terdampak pemerintah provinsi, pengembangan jaringan perpipaan, dan membangun SPAM.

Dengan berbagai rencana pengembangan tersebut, berapa tambahan cakupan layanan yang ditargetkan PAM Jaya?

Dengan PMD sebesar Rp1,2 triliun, kami perkirakan akan ada tambahan cakupan layanan sekitar 5,8%, karena dengan anggaran tersebut kita bisa melakukan pengembangan jaringan perpipaan, dan akan ada dua SPAM baru, yaitu Ciliwung dan Pesanggarahan yang bisa menambah pasokan distribusi air di Jakarta.

Proses pembangunan kedua SPAM itu sendiri diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun, artinya kalau dananya sudah siap dan pembangunannya berjalan tahun ini, maka akan ada penambahan cakupan layanan sekitar 5,8% pada 2020.

Bagaimana jika usulan PMD tidak mendapat persetujuan?

Tentunya kami akan lakukan rescheduling, karena rencana kegiatannya tidak bisa langsung dikerjakan semuanya. Kita akan melihat apa saja program prioritasnya untuk disesuaikan dengan kekuatan anggaran yang ada. Sebenarnya kan kenapa kita mengajukan usulan PMD sebesar Rp1,2 triliun, yaitu untuk percepatan realisasi program-program pengembangan dan pemenuhan kebutuhan air, tetapi jika tidak disetujui, maka harus ada penyesuaian.

PAM Jaya telah mendapatkan PMD Rp300 miliar, apa saja kegiatan yang sudah dijalankan?

PMD tersebut digunakan untuk pemasangan jaringan perpipaan dari SPAM Hutan Kota dan pelayanan MBR . Akan tetapi, saat ini kami masih menunggu usulan PMD tahap kedua Rp150 miliar. Dengan biaya Rp450 miliar untuk jaringan itu diperkirakan bisa meningkatkan cakupan pelayanan kurang lebih 2%.

Apa program jangka pendek yang akan dijalankan?

Kita akan fokus supaya SPAM Hutan Kota bisa segera beroperasi, Kita terus berupaya supaya eksekusi proyeknya bisa sesuai dengan jadwal. SPAM tersebut diperkirakan menghasilkan kapasitas air 500 liter per detik. Dengan beroperasinya SPAM Hutan Kota, cakupan layanan diharapkan bisa meningkat 2%, dan potensi penerimaan pelanggan baru sebanyak 30.000 pelanggan.

Selain itu, kita juga punya program optimalisasi jaringan perpipaan, saat ini ada beberapa tempat yang secara produktivitasnya tidak bagus. Pipanya sudah tersedia, tetapi tidak ada kemauan menyambungkan dari pelanggan. Mungkin, mereka masih nyaman dengan penggunaan air tanah, tetapi kan kita tidak pernah tahu apakah kualitas tanahnya itu baik atau tidak.

Oleh sebab itu, kita terus lakukan edukasi kepada pelanggan atau calon pelanggan untuk memanfaatkan sambungan perpipaan yang kita sediakan. Dengan berbagai upaya pengembangan itu, saya perkirakan akan ada kenaikan sekitar 3%.

Bagaimana tindak lanjut PAM Jaya terkait dengan putusan MA untuk menghentikan swastanisasi air di Jakarta?

Sebagai tindak lanjut, Gubernur DKI sudah melakukan pembentukan tim evaluasi tata kelola. Dalam jangka pendek tim ini akan memberikan rekomendasi kepada gubernur terkait kerjasama yang selama ini sudah dijalankan. Ada beberapa opsi yang kemudian akan diputus, atau dirundingkan, tetapi saat ini masih dilakukan pembahasan oleh tim tersebut.

Siapa saja pihak yang tergabung dalam tim evaluasi? Kapan proses kajian akan dirampungkan?

Untuk rencana jangka pendeknya, tim evaluasi diberi waktu selama 1 bulan untuk memberikan rekomendasi ke Gubernur. Tim tersebut terdiri dari profesional, ada LSM , akademisi, TGUPP , Sekda DKI, perwakilan dari Kadin, dan PAM Jaya.

Apakah sudah ada langkah konkret yang dibahas tim evaluasi mengingat kontrak kerja sama dengan pihak swasta akan berakhir pada 2023?

Saat ini masih ada beberapa hal yang masih membutuhkan penilaian dan pertimbangan oleh tim evaluasi sebelum akhirnya membuat keputusan. Tim ini terus intens bekerja dengan dokumen-dokumen yang dimiliki dan terus berdiskusi untuk bisa menghasilkan rekomendasi yang terbaik dalam rangka perbaikan pelayanan kepada warga Jakarta secara lebih luas lagi dan tarif yang lebih affordable. Sebagai bagian dari tim, kita akan memberikan masukan-masukan, misalnya dari sisi kesiapan PAM Jaya. Untuk jangka panjang, tim evaluasi juga mendapat tugas untuk membuat blueprint tentang pengelolaan air bersih di Jakarta.

Apakah PAM siap menjalankan keputusan MA untuk mengabil alih pengelolaan air di Jakarta?

Kita akan bertransformasi dari yang saat ini sebagai supervisi untuk kemudian menjadi operasional. Untuk menuju ke sana, kita akan meningkatkan capacity building untuk memastikan bahwa apapun putusannya kita siap untuk menjalankannya. Akan tetapi, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana bisa tetap meningkatkan cakupan layanan.

Bagaimana perkembangan program peningkatan sambungan pelayanan air bersih ke kampung prioritas?

Ada dua skenario yang kita tawarkan kepada Gubernur DKI dalam membuat kebijakan, karena biar bagaimanapun juga sudah ada contoh yang terlayani misalnya, Kampung Akuarium dengan menggunakan master meter. Selain itu, ada jaringan yang dibangun Dinas Perumahan dan dikelola oleh warga setempat. Pola berikutnya adalah kebijakan melayani warga di Kampung Prioritas, tetapi jika sewaktu-waktu pemilik lahannya mengambil haknya, maka akan kita putus sambungannya. Itu beberapa alternatif yang kami tawarkan sebagai bentuk dukungan program Pemda DKI untuk penataan kampung dan masyarakat.

Saat ini, kita juga telah melakukan survei ke beberapa kampung lainnya, tetapi masih dilakukan pembahasan bentuk pelayanannya karena sebagian besar merupakan pemukiman ilegal.

Apakah kasus kebocoran pipa dan pencurian air berdampak signifikan terhadap pelayanan PAM Jaya? Bagaimana strateginya untuk mengatasi persoalan tersebut?

Persentase kehilangan air memang masih cukup tinggi yaitu sekitar 44%. Dari angka tersebut, 20% commercial loses disebabkan oleh pencurian dan alat pengukur air yang tidak akurat. Sisanya karena kebocoran pipa dan sebagainya. Saat ini terus dilakukan upaya perbaikan, mitra-mitra kami juga telah melakukan pilot project untuk beberapa daerah yang sudah mulai terlihat hasilnya dalam menganggulangi kehilangan air yang kemudian akan diterapkan di daerah-daerah lainnya. 0 BIS








Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 12 November 2018
Rabu, 07 November 2018
Selasa, 06 November 2018
Senin, 05 November 2018
Kamis, 01 November 2018
Selasa, 30 Oktober 2018
Sabtu, 27 Oktober 2018
Minggu, 21 Oktober 2018
Kamis, 18 Oktober 2018
Selasa, 16 Oktober 2018
Minggu, 14 Oktober 2018
Jumat, 12 Oktober 2018