Jumat, 05 Oktober 2018

Ekonomi Cina Melambat, Bank Dunia Beraksi

Ist.
Beritabatavia.com - Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk tahun depan. Hal itu dilakukan karena saat isu tensi perdagangan dan gejolak arus modal keluar diperkirakan bakal membebani prospek ekonomi global.

Dalam laporan Economic Update yang dirilis kemarin, lembaga keuangan internasional itu memangkas proyeksi pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP), yang mencakup Cina, menjadi 6 persen untuk 2019.

Proyeksi ini lebih rendah dari perkiraan sebesar 6,1 persen yang dikeluarkannya pada bulan April. Hal ini juga mencerminkan perlambatan di Cina di tengah upayanya untuk terus menyeimbangkan kembali perekonomiannya dengan mendorong konsumsi domestik.

Pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk tahun ini disebut akan melambat menjadi 6,3 persen dari 6,6 persen pada tahun lalu. Untuk tahun 2020, Bank Dunia memperkirakan kawasan ini akan tumbuh 6 persen, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya.

“Risiko utama untuk melanjutkan pertumbuhan yang kuat di antaranya adalah eskalasi proteksionisme, meningkatnya gejolak pasar keuangan, serta interaksinya dengan kerentanan fiskal dan keuangan domestik,” kata Sudhir Shetty, kepala ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Kamis, 4 Oktober 2018.

Bank Dunia memaparkan bahwa  negara-negara ekonomi berkembang di kawasan tersebut harus menggunakan kebijakan-kebijakan makroekonomi lengkap demi meredam dampak guncangan eksternal.

“Dalam hal meningkatnya risiko ini, negara-negara berkembang di kawasan tersebut perlu memanfaatkan berbagai kebijakan makroekonomi, prudensial, dan struktural yang lengkap untuk meredam guncangan eksternal dan meningkatkan potensi tingkat pertumbuhan,” katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Jumat (5/10).

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Cina tetap melambat menjadi 6,5 persen tahun ini, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya. Akan tetapi, pertumbuhan Negeri Tirai Bambu untuk tahun depan diperkirakan akan melambat menjadi 6,2 persen, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yakni 6,3 persen. 0 ERZ