Selasa, 09 Oktober 2018

Kanaikan Dollar Potensi Rontokkan Kekuasaan Jokowi

Ist.
Beritabatavia.com - Guncangan ekonomi dan pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) memiliki peran runtuhnya kekuasaan Presiden Soekarno dan Soeharto. Apakah merosotnya nilai rupiah terhadap dollar AS yang sudah mencapai Rp 15.300 / dollar AS akan merontokkan kekuasaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ?

Sementara upaya menurunkan impor dan meningkatkan ekspor serta investasi yang dilakukan pemerintah tak juga mampu menahan keperkasaan dollar AS terhadap nilai tukar rupiah. Justru adanya indikasi kenaikan nilai dollar terhadap rupiah akan naik perlahan.

Wakil Ketua umum (Waketum) DPP Partai Gerindra, Arief Poyuno mengaku khawatir karena hancurnya nilai rupiah terhadap dollar AS sudah berdampak pada harga barang kebutuhan.

“Kita lihat beberapa hari kebelakang ini contohnya terigu, tempe ,tahu, telur ayam , daging ayam dan sapi, susu anak-anak sudah naik,” kata Arief Poyuno, dalam keterangannya Selasa (9/10). Kenaikan harga-harga barang terutama komoditas impor sudah pasti menyulitkan rakyat, tambahnya.

Sementara dari sisi keuangan Negara, Arief melanjutkan,  utang Luar Negeri yang dicetak Joko Widodo alam denominasi dolar makin numpuk dan nggak tahu sampai kapan bisa lunas.

“Harga energi seperti gas ,BBM dan listrik makin naik tinggi,” kata dia.

Arief juga pesimis pemerintah bisa menekan impor.Sebab disisi lain pemerintah tetap ngotot akan melakukan impor  beras gula dan lain-lain. Tentu akan berdampak pada kenaikan harga. Arief curiga, kuota impor beras dan gula itu sengaja diberikan kepada pengusaha. Kemudian hasil keuntungan besar itu disetor untuk digunakan sebagai biaya kampanye.

“Maklum, sekarang kan butuh dana besar untuk kampanye,” kata Arief Poyuno.

Sedangkan dari sisi pelaku usaha, lanjutnya,  sebagian besar barang-barang ekspor andalan, bahan baku dan barang modal impornya, akan ada kenaikan ongkos karena nilai tukar rupiah melemah.

“Satu contoh misalkan tekstil kurang lebih 70 persen bahan bakunya impor tekstil. Kemudian farmasi mungkin sekitar 80 persen juga bahan bakunya di impor. Otomatis kalau impor, akan naik ongkosnya karena nilai tukar kita melemah,” jelas Arief.

Bukan hanya itu, akibat rupiah melemah bisa juga berdampak pada ancaman PHK Buruh. Itu terjadi karena beban produksi yang berat akibat bahan baku impor mahal sehingga harus ada PHK karena disisi lain penjualan produk menurun.
“Kalau sudah begini, apakah kita terus membiarkan Negara ini diurus oleh sosok yang tidak memiliki kompentensi untuk membangun fondasi ekonomi yang kuat. Saya yakin rakyat Indonesia cerdas dan memahami permasalahan yang timbul adalah akibat ketidakmampuan pemimpinnya yang sekarang,” tegas Arief.

Dia mengingatkan dan mengajak seluruh masyarakat agar memilih pemimpin yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sehingga Negara dan bangsa Indonesia benar-benar berdikari atau berdiri diatas kaki sendiri, tanpa tergantung dengan utang dari pihak asing.
 
Arief juga menyindir argumentasi pemerintah yang terkesan untuk melempar tanggungjawab atas ketidak mampuannya. Seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Bali, mengatakan nilai dolar AS ini akan terus bergerak ke satu titik ekuilibrium baru seiring langkah The Fed yang akan menaikkan suku bunganya beberapa kali di tahun depan.
Menurut Sri, nilai dolar AS yang hampir menyentuh Rp 15.300 ini juga dipicu data perekonomian negeri Paman Sam sendiri yang terus membaik dan perkembangannya sangat cepat, khususnya kenaikan imbal balik (yield) pada obligasi 10 tahun yang bunga sudah 3,4 persen.

“Kan hari ini kalau kita lihat data di AS yang dipicu oleh yield 10 tahun bond AS yang meningkat luar biasa tajam sudah di atas 3,4 persen, ini unpresedented selama ini, jadi kita melihat dinamika ekonomi AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali,” kata Sri. O son