Selasa, 09 Oktober 2018

Survey Jadi-Jadian Jelang Pilpres

Ist.
Beritabatavia.com - Hasil survey jelang Pilpres yang menyebut elektabilitas pasangan Jokowi-Maruf Amin semakin tinggi dinilai hoax yang juga hasil dari lembaga survey jadi-jadian.

Wakil ketua umum (Waketum) DPP Partai Gerindra, Arief Poyuno mengatakan, dinegara yang menganut  demokrasi,yang jadi ukuran adalah  kinerja ekonomi pemerintah.  Kinerja itu memiliki hubungan kuat dengan tingkat elektabilitas calon petahana yang akan maju lagi sebagai Capres. 

“ Apakah hasil survey yang menyebut elektabilitas Jokowi semakin tinggi mampu menahan nilai kurs dollar Amerika Serikat terhadap rupiah yang terus semakin tinggi ?,” kata Arief Poyuno merespon hasil survey tersebut, Selasa (9/10).

Menurutnya, krediblitas lima lembaga survey yang selalu menyatakan elektabilitas Jokowi- Maruf Amin tetap tinggi patut dicurigai.

Pertama kelima Lembaga Survei opini tersebut sebelumnya di bulan Mei 2018 di undang ke Istana. Artinya, ada pesan pesan khusus alias pesanan survey sehingga tidak lagi dapat disebut independent .

“Tidak pernah yang namanya mbahnya Lembaga Survei opini yang mensurvei pilpres di Amerika Serikat ,Gallups mau diundang Presiden Amerika Serikat incumbent. Beda sama Lembaga Survei di Indonesia ya,” ujar Arief.

Kedua bahwa hasil Survei mereka tidak  simetris dengan trust dari Pelaku Pasar Internasional dan  lokal terhadap kinerja ekonomi Joko Widodo. Buktinya, para  pemegang Obligasi / Surat utang Indonesia mulai melepas besar besaran Obligasi dan surat utang Indonesia ,terjadi capital flight besar besaran ,serta ketidak percayaan para eksportir serta perusahaan penghasil US dollar untuk menahan dollar di dalam Negeri.

“Nah, semua ini yang akhirnya membuat dollar tembus hingga 15 ribu lebih dan menuju 16 ribu,” tegasnya.

Apalagi, Arief menambahkan, dari polling polling media online tidak ada yang menghasilkan kalau Elektabilitas Joko Widodo Maruf Amin itu lebih tinggi dari Prabowo - Sandi . Sangat beda jauh jika disamakan antara hasil Survei  Joko Widodo Maruf Amin dengan SBY- Budiono .

Dimana setelah krisis ekonomi global 2008 hingga Pasar Saham Indonesia di suspend. Namun, saat  mendekati Pilpres nilai kurs Dollar beranjak turun.
 
“Jadi kesimpulannya hasil Survei yang dilakukan oleh Lembaga yang katanya kredibel dipastikan adalah hoax  dan jadi jadian,” pungkasnya. O son

Berita Terpopuler
Minggu, 16 Desember 2018
Berita Lainnya
Senin, 26 November 2018
Minggu, 25 November 2018
Sabtu, 24 November 2018
Kamis, 22 November 2018
Selasa, 20 November 2018
Senin, 19 November 2018
Minggu, 18 November 2018
Sabtu, 17 November 2018
Jumat, 16 November 2018
Kamis, 15 November 2018
Selasa, 13 November 2018
Senin, 12 November 2018