Kamis, 11 Oktober 2018

IMF: Perekonomian Indonesia Luar Biasa

Ist.
Beritabatavia.com - Dana Moneter Internasional (IMF) menilai Intensitas perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina semakin meningkatkan risiko terjadinya krisis keuangan. Dan Indonesia merupakan negara berkembang yang relatif jauh dari dampak perang dagang kedua negara itu.

"Saya menilai perekonomian Indonesia sangat luar biasa. Perekonomian Indonesia bahkan sudah jauh lebih baik dibandingkan dua puluh tahun lalu ketika terjadi krisis ekonomi Asia," lontar Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

IMF melihat, lanjut Lagarde, Indonesia sudah bisa melewati krisis keuangan. Ada peningkatan signifikan sekali dalam perekonomian Indonesia. Selain itu, IMF tidak melihat adanya penularan krisis yang lebih luas terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah ketidakpastian ekonomi yang ditimbulkan dari pengetatan suku bunga global.

Menurutnya, saat ini banyak yang sudah lebih siap dengan kebijakan yang tepat, dan hanya sedikit yang belum. Tetapi negara tersebut telah memulai langkah perbaikan. Dalam konteks Indonesia, Lagarde melihat banyak perubahan yang signifikan dalam tataran kebijakan ekonominya, baik fiskal dan reformasi struktural.

"Kartu penilaian untuk Indonesia adalah luar biasa melihat peningkatan pendapatan per kapita yang naik dua kali lipat, penurunan angka kemiskinan hingga 11%, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi," ujarnya

Sementara itu, dia mengimbau agar tidak mempermasalahkan nilai tukar rupiah yang melemah akibat pengaruh dolar AS yang menguat. Pasalnya, kondisi ini terjadi hampir menimpa seluruh mata uang di dunia, termasuk Australia dan Selandia Baru.

Cadangan devisa, ketahanan sektor perbankan, serta pengelolaan utang semuanya menunjukkan perbaikan yang sangat masif dan rekam jejak yang baik. Dengan demikian, dia memberikan apresiasi kepada pemerintah dan berharap Indonesia terus menunjukkan kedisiplinan yang baik.

Selain itu IMF mencatat, risiko meningkat dari perang dagang AS dan Cina. Hal itu datang pada saat pasar negara berkembang sedang berada di bawah tekanan. Beberapa negara berkembang pun menghadapi arus keluar modal (capital outflow) yang besar.

Berdasarkan analisis IMF, negara-negara berkembang, kecuali Cina, diprediksi dapat mengalami arus keluar sebesar 100 miliar dolar AS atau bahkan bisa lebih dari itu.

Kendati begitu, kata dia, struktur perekonomian nasional yang saat ini masih positif menjadi katalis positif bagi Indonesia. Di mana hal ini tercermin pada pertumbuhan ekonomi nasional yang masih mampu menyentuh level 5,27 persen di triwulan II 2018 menunjukkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih cukup kuat dalam menghadapi berbagai risiko-risiko yang datang dari global. O ERZ